Sunday, March 1, 2020

Makalah Psikologi Abnormal


BAB I 
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang
Psikologi abnormal kadang-kadang disebut juga psikopatologi. Dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah Abnormal Psychology. Apa yang dimaksud dengan psikologi abnormal? Berikut dikemukakan beberapa definisi. Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa. Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan. Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal, pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009), dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”. 
B. Rumusan Masalah
C. Tunjuan Pembahasan


BAB II 
PEMBAHASAN 

A. Konsepsi Tentang Abnormalitas
B. Klasifikasi Dan Gejala Kelainan Jiwa
C. Neurosis
D. Psikosis
E. Psikopat
F. Retardasi Mental
G. Stress


BAB III 
PENUTUP 

A. Kesimpulan
Psikologi abnormal merupakan salah satu cabang psikologi dalam bidang klinis dimana ia mempelajari pola perilaku abnormal dan menggunakan cara tertentu untuk membantu orang yang mengalami abnormalitas. Psikologi abnormal memiliki beragam istilah yang spesifik. Beberapa istilah yang sering digunakan dalam menyebut perilaku abnormal dalam psikologi abnormal adalah mental disorder, perilaku maladaptive, emotional discomfort, mental illness, psikopatology dan gangguan mental. 

B. Saran
Makalah ini mungkin dapat memberikan manfaat dan menjadi referensi dalam mempelajari psikologi abnormal, maka pembaca akan mendapatkan pemahaman dan pengetahuan mengenai jenis, gejala, pencegahan, penyebab dan penanganan dari perilaku abnormal dan pemahaman mengenai psikologi abnormal dapat membantu dalam melakukan penanganan dan pencegahan gangguan psikologis pada peserta didik. Selain itu juga memiliki manfaat untuk mengembangkan metode intervensi, penelitian serta berbagai alat bantu untuk memudahkan intervensi klinis pada subyek yang teridentifikasi mengalami abnormalitas. 

Chord Buruh Tani (Marjinal)


[Intro]
Dm Am Gm Am G Am

Am
Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Dm                      Am
Bersatu padu rebut demokrasi
Dm                    Am
Gegap gempita dalam satu suara
G                      Am
Demi tugas suci yg mulia

Am
Hari-hari esok adalah milik kita
Dm                          Am
Terciptanya masyarakat sejahtera
Dm                        Am
Terbentuknya tatanan masyarakat
G                    Am
Indonesia baru tanpa ORBA

Reff :
G                   Am
Marilah kawan mari kita kabarkan
G                   Am
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
G                    Am
Barilah kawan mari kita yyanyikan
G                         Am
Sebuah lagu tentang pembebasan

Am
Dibawah kuasa tirani
Dm                  Am
Kususuri garis jalan ini
Dm              Am
Berjuta kali turun aksi
G                   Am
bagiku satu langkah pasti
Am
Berjuta kali turun aksi
Dm                     Am
Bagiku satu langkah pasti


Am
Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Dm                      Am
Bersatu padu rebut demokrasi
Dm                    Am
Gegap gempita dalam satu suara
G                      Am
Demi tugas suci yg mulia

Am
Hari-hari esok adalah milik kita
Dm                          Am
Terciptanya masyarakat sejahtera
Dm                        Am
Terbentuknya tatanan masyarakat
G                    Am
Indonesia baru tanpa ORBA

Reff:
Am
Marilah kawan mari kita kabarkan
Dm                              Am
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Dm                        Am
Marilah kawan mari kita nyanyikan
G                         Am
Sebuah lagu tentang pembebasan

Am
Dibawah kuasa tirani
Dm                  Am
Kususuri garis jalan ini
Dm              Am
Berjuta kali turun aksi
G                   Am
Bagiku satu langkah pasti
Am
Berjuta kali turun aksi
Dm                     Am
Bagiku satu langkah pasti
Dm                    Am          (Am    G     Am)
Bagiku satu langkah pasti


Wednesday, February 26, 2020

Tipu Daya Monyet

Di sebuah hutan yang lebat, ada seekor monyet kecil bernama Mimi yang suka meloncat kesana kesini. Ia gemar bermain dan sering lupa waktu jika dia sibuk bermain. Sambil makan pisang, dia bergelantungan di pohon dengan riang gembira. Mimi mempunyai sahabat, namanya Popo. kemana Mimi pergi, Popo pasti selalu menemani. Namun Popo mempunyai tubuh yang besar sehingga kurang lincah bila melompat-lompat, sering kali Mimi mengerjainya. Pada saat asyik bermain di pohon dekat sungai, terlihat seekor buaya datang menghampiri mereka berdua, Mimi dan Popo menyapa buaya itu. “Hai Buaya, apa kabarmu hari ini?” Mimi dan Popo menyapa. “Kabarku baik-baik saja, bagaimana kabar kalian berdua?” jawab buaya lanjut bertanya. “Kabar kami berdua juga baik-baik saja” jawab Mimi. “Ada keperluan apa kamu datang kemari, buaya?” lanjut tanya Mimi. “Ah, tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin bermain bersama kalian” jawab buaya gagap. “baiklah kalau begitu, ayo kita bermain sekarang” ajak Mimi.

“Kita bermain diseberang saja, disana terdapat tempat yang indah dan asyik untuk bermain” bujuk buaya. “Wah, pasti menyenangkan ini, tapi kami tidak bisa berenang, buaya” tanya Mimi. “Tenang saja, aku akan mengantarkan kalian ke seberang, naik ke punggungku sekarang” jawab buaya. Mimi yang pertama kali di seberangkan oleh buaya itu, dari kejauhan, nampaknya Popo mulai curiga, ia melihat tingkah laku buaya yang aneh, padahal mereka baru kenal, kok tiba-tiba buaya itu bersikap baik kepada mereka berdua. “Harusnya tadi aku mengingatkan Mimi untuk waspada, semoga perkiraanku salah” gumam Popo sendirian. Sekembalinya buaya dan Mimi dari seberang, Popo lega karena tidak terjadi apa-apa seperti yang dipikirkannya. “Hai Popo, disana ada tempat bermain yang indah sekali, kamu tidak ingin melihatnya?” sapa Mimi. “Tidak Mimi” jawab Popo. “Sekarang aku pamit pulang dulu ya” kata buaya. “Ya buaya, terima kasih ya” jawab Mimi. Buaya pun meninggalkan mereka berdua di pinggir sungai, sementara Popo terus memandangi buaya dengan penuh rasa curiga. “Kita harus hati-hati, Mimi. Aku punya firasat yang tidak baik dengan buaya itu” Popo mengingatkan. “Memang kenapa, Popo” tanya Mimi. “Aku melihat perlaku aneh, sorot matanya menandakan ia mempunyai maksud yang tidak baik, Mimi” jawab Popo. “Itu cuma perasaanmu saja, kalau dia punya niat tidak baik, pasti di seberang tadi aku sudah di makannya” bantah Mimi. “Itulah kenapa tadi aku memperhatikan kamu terus, dia tahu aku mengawasinya,” jawan Popo. “Jangan berpikiran buruk dulu, Popo,” ucap Mimi.

Keesokan harinya, Mimi sedang bergelantungan di pohon pinggir sungai sendirian dan Popo belum datang untuk bermain dengan Mimi. “Hari yang indah ya?, kamu sendirian, Mimi?” sapa buaya. “Eh kamu buaya, iya nih aku sendirian, Popo belum datang” jawan Mimi. “Kita kesebarang lagi yuk, Mimi” ajak buaya. “Wah, menarik juga nih. Ayo kita berangkat sekarang” jawab Mimi. Dengan gembira Mimi melompat ke punggung buaya, mereka pun berangkat ke seberang. Ditengah perjalanan, buaya berkata kepada Mimi. “Sebenarnya aku sedang mencari obat untuk raja buaya yang sedang sakit.” “Apa obat yang bisa menyembuhkan penyakit rajamu, buaya?” tanya Mimi. “Obatnya adalah hati dan jantung monyet” jawab buaya. Mendengar jawaban buaya, Mimi terkejut bukan main. Ia sadar maksud buaya itu. “ternyata si Popo benar, aku harus cari cara untuk menyelamtakan diri sebelum aku di bunuh buaya untuk di ambil jantung dan hatiku” kata Mimi dalam hati. Sambil berpikir, Mimi menemukan akal untuk menyelamatkan diri. “Baiklah buaya, setelah di seberang, engkau boleh mengambil jantung dan hatiku, tapi ijinkanlah aku menikmati pemandangan indah itu untuk terakhir kalinya” akal Mimi. “kamu serius, Mimi?” jawab buaya. “Demi menyelamatkan raja mu, aku siap mengorbankan nyawaku” ucap Mimi. “Baiklah, nikmatilah pemandangan itu sepuas hatimu” jawan buaya.

Setelah sampai di seberang, dengan sedikit gemetar, Mimi akhirnya melompat ke daratan. Nampaknya buaya baru sadar kalau dia di tipu oleh Mimi. Di seberang sudah ada Popo yang menunggu bersama seekor burung besar untuk mengantarkan Mimi kembali di tempat semula. Popo sengaja tidak datang karena sudah tahu niat buaya. Mimi mengucapkan terima kasih kepada Popo, karena sudah mengingatkan dia. 

Pesan Moral : “Perangkap biasa mengenai siapa-saja, tapi kehati-hatian selalu membuat segala jebakan terungkap. Mata harus tetap waspada, tindakan harus tetap hati-hati, tapi kaki harus tetap berlari kencang.”

Si Nuri Yang Rajin

Di sebuah hutan yang lebar, ada keluarga Burung Nuri yang sedang bercengkerama di rumah mereka yang di atas pohon. Di rumah itu ada ayah Nuri, ibu Nuri, adik Nuri dan si Nuri. Ayahnya sedang memberi nasehat kepada anak-anaknya, adik Nuri dan si Nuri sangat memperhatikan nasehat sang ayah. “Apa kalian tahu mengapa ayah memanggil kalian untuk berkumpul di rumah?” tanya ayah Nuri. “Kita tidak tahu, yah memang ada apa?” jawab Nuri. Dengan sabar ayah Nuri menjelaskan semuanya. “Untuk kalian anak-anakku, ayah ingin memberitahu sesuatu kepada kalian” jelas si ayah. “Ya, ayah..sebenarnya ada apa?” tanya Nuri. “Anakku, di hutan ini, sekarang banyak sekali pendatang baru, otomatis makanan akan semakin sulit..Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus lebih giat mencari makanan untuk persediaan kita nanti” kata ayah Nuri. “Ayah tidak usah khawatir, kami akan lebih giat mencari makanan untuk keluarga kita” tutur Nuri.

Di pagi yang cerah, matahari mulai nampak tuk memberi sinar alam semesta ini. Nuri dengan semangat berangkat mencari makanan di sekitar hutan, dengan bernyanyi riang gembira Nuri terbang. Tak terasa Nuri terbang jauh, namun belum mendapat makanan juga. “Aduh, kok jadi aneh ya, terbang kesana kemari belum juga dapat buah kesukaan keluargaku” gumam Nuri. Nuri pun terbang pelan, melihat-lihat sekitar hutan barangkali masih ada buah untuk makanannya. “Benar kata ayah, makanan sudah muali sulit dicari” kata Nuri. Secara tiba-tiba pandangan Nuri tertuju ke si Beo yang sedang termenung di ranting pohon, Nuri pun menghampiri si Beo. “Ada apa, Beo..Kok kamu wajahmu pucat, apa kamu sakit?” tanya si Nuri. “Ga kok, Nuri..aku baik-baik saja, hanya dari tadi pagi aku sudah terbang jauh namun belum juga mendapat makanan” jawab Beo. “Kalau begitu kita sama, Beo..Aku juga sudah dari tadi pagi belum mendapat makanan” jelas Nuri.

Bertambahnya pendatang baru di hutan sangat terasa, makanan mulai sulit, namun Nuri tidak pernah menyerah, ia terus berusaha mencari dan mencari makanan untuk persediaan keluarganya. “Ayo, Beo..Kita cari makanan bersama, jangan pernah menyerah” hibur Nuri. “Iya, Nuri..tapi aku sudah lapar, aku sudah tidak kuat terbang lagi” jawan Beo. “Jika kamu terus disini akan mendapat makanan?, ayo lebih baik kita mencoba lagi, pasti masih ada makanan” ajak Nuri. “Terbangnya pelan-pelan saja ya?” iba Beo. “Iya deh, semangat ya Beo” kata Nuri. Akhirnya Nuri dan Beo terbang ke timur untuk meneruskan mencari makanan. Pelan-pelan mereka terbang hingga akhirnya ada pohon yang rindang, dilihat dari luar pohon itu memang tidak ada buahnya, namun sebenarnya di tengah-tengah rindangnya pohon itu masih ada buah-buahan yang cukup banyak. “Lihat, Beo..Ada makanan, ayo kita cari yang banyak untuk persediaan keluarga kita masing-masing” teriak Nuri. “Kebetulan aku lapar, aku makan dulu aja ya, nanti baru kita bawa pulang” ajak Beo. “Terserah kamu aja Beo, aku mencari buah dulu untuk keluargaku dirumah, baru aku akan makan bersama-sama keluargaku” kata Nuri.

Dengan semangat Nuri memetik buah satu persatu dan dimasukkan ke dalam kantong yang sudah di siapkan. Setelah semua selesai, Nuri dan Beo terbang pulang kerumah masing-masing dan menyerahkan makanan yang telah di dapatkan kepada keluarga mereka. Orang tua Nuri sangat senang melihat Nuri pulang membawa makanan, mereka bangga mempunyai anak seperti Nuri yang rajin. 

Pesan Moral : “Jadilah anak yang rajin dan membantu orang tua. Karena ini adalah salah satu cara kamu berbakti kepada kedua orang tuamu. Mulai sekarang jadi anak yang rajin ya.”

Si Hiu Yang Suka Berbohong

Di sebuah laut yang sangat dalam, hiduplah seekor hiu yang besar. Hiu besar itu mempunyai banyak teman, dan semua teman-temannya pun suka kepadanya, karena ia pandai mendongeng. teman-teman hiu antara lain paus besar, gajah laut dan ikan pari, Hiu mulai mendongeng kepada teman-temannya itu. Ia mendongeng tentang kehebatan dirinya sendiri. Dengan sombongnya hiu memuji-muji dirinya sendiri. Hiu mendongeng bahwa ia mempunyai kelebihan bahwa ia tak terkalahkan, hiu bertanya kepada teman-temannya itu, “Terus apa saja kelebihan kalian”?, paus besar menjawab,”aku bisa tumbuh besar dan melompat ke atas”, lalu gajah laut ikut menjawab, “aku bisa berjalan di darat dengan mamakai sirip dan perutku”, tak ketinggalan ikan pari ikut pula menjawab, “aku bisa berenang dengan kedua sayapku”. 

Mendengar jawaban teman-temannya tampaknya hiu tak mau kalah dengan kelebihan temannya masing-masing, hiu mendongeng lagi, “apakah kalian pernah bertemu ikan piranha”?, paus besar balik bertanya kepada hiu, “apakah kamu pernah bertemu, hiu”?, dengan nada sombong hiu menjawab, “aku pernah bertemu dengan rombongan ikan piranha, dan mereka tidak akan memakanku”, “karena aku adalah hiu yang besar, hahahahaaaa!”, “kamu tidak takut hiu?” tanya paus besar. “aku tidak takut pada siapapun?” jawab hiu dengan penuh percaya diri. Dengan nada jengkel ikan pari menyahut, “apakah benar semua itu hiu?”, “benar, karena kau lebih besar dibanding piranha, dan aku lebih kuat”, sahut hiu dengan nada yang lantang. “Wah kamu memang hebat hiu,”dengan terkagum gajah laut memuji hiu. Dengan serius mereka mendengarkan dongeng hiu di atas sebuah kapal yang sudah lama karam. Ketika mereka sedang asyik mendengarkan dongeng si hiu, dengan tiba-tiba ada rombongan ikan piranha yang lewat di dekat mereka, dengan cepat paus besar, gajah laut, dan ikan pari bersembunyi di dalam kapal yang karam itu. 

Rombongan ikan piranha itu menuju ke kapal karam itu, mereka berputar-putar dan nampaknya mereka sedang lapar dan ingin mencari makan. Dengan hati-hati mereka bertiga terus bersembunyi di dalam kapal karam, namun dimana si hiu?, ternyata di hiu sedang bersembunyi dan sangat ketakutan. Beruntung rombongan piranha itu segera pergi. Setelah situasi aman, paus besar dan kedua temannya keluar dari persembunyian mereka, dengan penuh tanda tanya mereka mencari si hiu, “kemana hiu tadi?” tanya di gajah laut. Dengan gemetar hiu keluar dari persembunyiannya dengan wajah yang ketakutan. “Hiu, kemana saja kamu?”, “mengapa kamu tidak menghadapi mereka?”. tanya ikan pari. “Mana kehebatanmu hiu, seperti dongengmu tadi?”, hiu hanya terdunduk dan terdiam menahan malu karena sudah berbohong kepada teman-temannya. 

Pesan Moral : “Maka dari itu jangan suka berbohong ya, karena akan membuat dirimu malu. bicaralah apa adanya sesuai dengan kenyataan, kalau begini kan malu jadinya.”

Thursday, February 20, 2020

Transparansi Menghadapi Konflik Kepentingan dan Korupsi Dalam Pengadaan Barang atau Jasa


A.      Transparansi: Definisi, Lingkup dan Kriteria
Transparansi membuka akses ke informasi agar ada persaingan yang fair dan meungkinkan pengawasan efektif. Maka transparansi dalam pengadaan barang/jasa publik menurut lima syarat: (i) Memungkinkan akses ke informasi tentanga aturan-aturan dan prosedur-prosedur serta tentang kesempatan pengadaan barang/jasa tertentu. (ii) Informasi harus jelas, konsisten, dan relevan sehingga calon penyedia dan kontraktor memahami proses pengadaan barang/jasa secara baik, tidak merasa dipermainkan dan memperoleh jaminan perlakuan yang adil. (iii) Standarisasi proses yang memungkinkan kontrol kebijakan melalui benchmark. (iv) Keputusan-keputusan penting di dalam pengadaan barnag/jasa terdokumentasi dengan baik dan mudah di akses. (v) Penerapan sistem teknologi informasi dalam E-Procurement menjadi alat tnraparasi karena sistem itu meninggalkan jejak untuk memudahkan audit, yang sangat bermanfaat untuk membuat revisi dan evaluasi kebijakan pengadaan barang/jasa.
Tugas pengadaan barang dan jasa, menurut Westring, mencakup setidaknya tujuh bidang/lingkup, yaitu (i) perincian tentang jenis dan jumlah barang atau jasa; (ii) pemeriksaan pasar penyedia dan kontrak dengan penyedia-penyedia barang/jasa yang mungkin; (iii) membuat pemesanan atau kontrak, termasuk negoisasi tentang syarat-syaratnya; (iv) mengawasi penyerahan kiriman dan kinerjanya; (v) melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan bila pekerjaan tidka beres; (vi) melakukan pembayaran; (vii) mengurusi penyelesaian bila muncul perkara (Ibid. 7).
Kewajiban hukum dan persetujuan-persetujuan yang disepakati ditentukan oleh kerangka kebijakan yang jelas yang mencakup empat ketentuan (Ibid.8); (i) kebijakan umum (misalnya prioritas penyedia dalam negeri) dan regulasi (hukum, statuta, keputusan menteri); (ii) dana untuk pengadaan barnag dan jasa apakah dari pemerintah, bila demikian, audit pemerintah diperbolehkan untuk menyelidiki kegiatan-kegiatan pengadaan barang dan jasa; (iii) apakah pemerintah merukana instansi paling bertanggung jawab akan kewajiban-kewajiban terhadap pihak ketiga; (iv) apakah badan pemerintah yang mengadakan kontrak ditentukan oleh statuta atau disamakan dengan perusahaan swasta.

B.      Transparansi: Aturan dan Prosuder Harus Jelas dan Fair
Agar pengadaan barang/jasa berkualitas harus ada persaingan, maka semakin banyak kontraktor yang ikut serta, akan semakin bisa memilik yang terbaik. Untuk menarik minat banyak kontraktor, aturan dan prosedur harus terbuka dan fair. Untuk tujuan itu, ada tiga cara (Fighting Corruption and Promoting Integrity in Public Procurement, 2005-25): (i)  Pemerintah mengumumkan persaingan terbuka. Maka perlu ada publikasi melalui media atau pemberitahuan on-line. (ii) Pemerintah menetapkan statuta dan regulasi yang dirancang dengan standar yang sama. (iii) Sebelum berlaku efektif, aturan-aturan itu dipublikasikan lebih dahulu untuk mendapatkan masukan atau perbaikan dari pihak-pihak yang berkepentingan. 
Transparansi berarti menjamin akses ke hukum dan regulasi, keputusan-keputusan administratif dan hukum, klausal standar kontrak, sarana, metode dan proses pengadaan barang/jasa karena itualah syarat-syarat yang mendefinisikan, mengatur dan menentukan kontrak (OECD Principles for Integrity in Publik Procurement, 2009:22). Prosedur mitigasi. “Pemerintah sebaiknya juga menentukan prosedur mitigasi bila ada risiko-risiko yang mungkin bisa terjadi seperti bencana alam, kecelakaan besar, krisis moneter atau musibah lain”. Prosedur mitigasi efektif bila pemerintah menjamin administrasi efisien sehingga tidak dipermainkan oleh kontraktor rekanan. Penanggung jawab keputusan kunci setidaknya dipegang dua atau tiga orang untuk pengawasan dan menghindari kesewenangan atau tindakan sepihak.

C.      Lubang-Lubang Korupsi dan Tanda-Tandanya
Ada dua belas gejala yang patut dicurigai adanya korupsi atau konflik kepentingan dalam proses pengadaan barang/jasa: (i) Kontrak diberikan selalu kepada penyedia yang sama tanpa ada kompetisi, sering dengan harga lebih tinggi dari harga pasar; (ii) Adanya perantara dalam kontrak padahal dia tidak menambah mutu atau kinerja kontrak; (iii) Pejabat yang bertanggung jawab menerima pemberian, fasilitas uang dan nampak lebih kaya padahal tidak sesuai dengan gaji yang diperolehnya. (iv) Mutu barang/jasa atau pekerjaan yang diberikan rendah. (v) Mantan pejabat atau keluarga, teman atau yang memiliki hubungan pribadi bertindak sebagai penyedia barang/jasa. (vi) Keluhan dari penawar dianggap sebagai sumber informasi penting adanya penipuan atau korupsi. (vii) Petunjuk pertama terkait dengan masalah harga. (viii) Teknik lain ialah skala perbedaan harga terlalu mencolok antara pemenang tender dan penawar lain. (ix) Kecurigaan perlu diarahkan pada prosedur. (x) Tanda lain yang patut dicurigai adalah perbaikan penawaran disaat-saat terakhir penyerahan atau sesudah penyerahan. (xi) Mundurnya calon penawar yang memiliki kualifikasi bisa memberi petunjuk adanya tekanan entah dari pejabat publik atau kolusi dengan penawaran lain (Ibid. 303). (xii) Sistem rotasi untuk mendapatkan kontrak di antara para penawar atau alokasi pasar sehingga mereka tidak perlu bersaing mendapatkan tender.

D.      Perusahaan Facade dan Gejala Manipulasi
Cara korupsi yang cukup canggih ialah dengan mendirikan perusahan facade, yang berfungsi untuk menutupi pengaruh ilegal dalam pemenangan kontrak, korupsi atau pencucian hasil uang korupsi (G.T. Ware, 2007:304-305). Perusahaan semacam ini hanya digunakan untuk memanipulasi tender atua menekan peserta tender yang lain. Perusahaan facade dipakai untuk pembayaran oleh pemenang tender sehingga seakan-akan uang tersebut adalah pembyaran atas prestasi atau pekerjaan yang disubkontrakkan, misalnya, mensuplai “data teknik” dengan harga 30% dari nilai kontrak.
Beberapa ciri yang mencurigakan adnaya perusahan facade untuk manipulasi tender dalam menutupi korupsi (Ibid, 305): (i) perusahaan yang sebelumnya tidak dikenal karena tidak memiliki track record ambil bagian dalam tender mengajukan sebagai subkontraktor terhadpa penawaran utama; (ii) perusahaan subkontraktor tidak memiliki prasarana atau fasilitas, bahkan sering alamatnya bukan kantor tapi rumah tinggal, atau seandainya kantor tidak ada kegiatan yang berarti; (iii) keluarga pejabat publik yang menangani pengadaan barang/jasa menjadi pemilik atau masuk dalam manajemen perusahaan yang menang tender; (iv) pejabat tersebut sering kelihatan muncul di kantor pemenang tender atau ketemu pemilik perusahaan pemenang tender di tempat lain.
Distorsi sejak awal proyek ini akan menyeret ke penawaran yang manipulatif, penuh kolusi dan korupsi. Gejalan-gejalan sudah bisa dikenali dalam hal: (i) proses persetujuan proyek tidak terlalu jelas, tidak ada kriteria objektif dalam memilih proyek seperti pilihan tempat atau bentuk tidak didasarkan atas kebutuhan publik; (ii) prakiraan harga tidka sesuai dengan rata-rata harga pasar atau pemecahan alternatif harga yang lebih murah ditiadakan; (iii) pemerintah tidak mempunyai kemampuan untuk memonitor. Rancangan pengadaan barang/jasa mengandalkan persaingan lokal; (iv) tidak ada rancangan alternatif antikorupsi di dalam desan proyeknya (Ibid. 309).
Gejala adanya manipulasi kelihatan: (i) ketika membuat undangan penawaran tender tidak diiklankan secara luas; (ii) tidak memberi informasi-informasi memadai tapi sulit diakses atau harus dengan password; (iii) undangan diberikan atau diumumkan dalam tenggang waktu yang tidak memungkinkan membuat persiapan yang mencukupi; (iv) formulir dokumen-dokumen penawaran tidak menggunakan standar resmi sehingga memungkinkan penggunaan kriteria evaluasi yang sewenang-wenang untuk menentukan syarat-syarat kontrak demi peserta yang dikehendaki; (v) dokumen penawaran tidak memberi instruksi jelas tentang bagaimana mempersiapkan penawaran atau struktur harga penawarannya; (vi) tenggat waktu yang diberikan antara penyerahan penawaran dan pembukaan penawaran publik tidak umum atau ada perubahan tempat penyerahan penawaran tanpa diberitahukan kepada semua peserta.
Pengadaan barang/jasa memperhitungkan syarat-syarat yang menopang transparansi. Syarat-syarat itu setidaknya meliputi tiga hal di bawah ini: (i) kompetensi, integritas pejabat publik dan perjanjian integritas; (ii) dana digunakan sesuai dengan tujuan dan pengembangan mekanisme kontrol; (iii) peran media, civil society dan whistle-blowers.

E.      Transparansi: Kompetensi Pejabat Publik dan Perjanjian Integritas
Untuk mencegah konflik kepentingan di dalam pengambilan keputusan publik, pihak pejabat publik diminta membuat pernyataan tentang empat hal: (i) pejabat publik harus menyadari situasi dan menyaring hubungan-hubungan yang berisiko; (ii) membuat laporan daftar kekayaan secara berkala supaya bisa dinilai apakah ada peningkatan kekayaan yang bisa menjadi petunjuk mencurigakan adanya konflik kepentingan atau korupsi (Bribery in Public Procurement, 2007:58). (iii) pejabat publik diminta untuk membuat pernyataan tertulis bahwa tidak memberikan informasi konfidensial atau favoritisme kepada kontraktor; (iv) peserta tender juga harus menyerahkan pernyataan bahwa dirinya tidak berusaha mencari bocoran informasi konfidensial dan bisa menunjukkan bahwa ia bersih atau tidak mendapatkan bocoran.
Kompetensi leadership menuntut bahwa pejabat publik memiliki keterampilan dan perancangan, negoisasi serta cepat menentukan perubahan manajemen agar mudah menumbuhkan kepercayaan. Untuk menginjgatkan pentingnya standar etika, pejabat publik dan rekanan swasta diminta untuk membuat Perjanjian Integritas sebagai alat komitmen integritas yang bisa dipercaya. Tujuannya adalah menjamin agar baik pemerintah maupun kontraktor tidak bermain curang atau korupsi di dalam proses pengadaan barang/jasa. Perjanjian integritas ini merupakan perjanjian antara pemerintah dan semua peserta tender untuk tidak membayar, menawarkan, meminta atau menerima suap, atau melakukan kolusi antarpesaing dalam rangka mendapatkan kontrak atau dalam pelaksanaan kontrak.
Pemerintah harus meminta standar integritas yang jelas kepada pihak swasta. Bentuk standar integritas itu ialah ada catatan umpan balik, evaluasi tentang pengalaman, dan memilik sejarah positif sebagai penyedia barang/jasa. Pemerintah harus tegas dan jelas menentukan standar integritas dalam seluruh proses pengadaan barnag/jasa dengan mendasarkan pada kriteria objektif dan diketahui pihak-pihak yang ambil bagian di dalam tender.

F.      Tujuan Dana Publik dan Pengembangan Mekanisme Kontrol
Pemerintah harus menjadi bahwa dana publik yang digunakan di dalam pengadaan barang/jasa sesuai dengan tujuan-tujuan yang dimaksudkan (OECD Principles, 2009:11). Kriterium menjawab kebutuhan publik dipakai untuk melokalisir konflik kepentingan yang dihadapi pejabat publik. Alokasi dana bisa disalahgunakan untuk kepentingan kelompok, partai politik, organisasi keagamaan atau organisasi alumninya. Sasaran proyek perlu di evaluasi secara ketat. Pemborosan-pemborosan atau alokasi dana sangat rawan korupsi dan kolusi, terutama pada akhir tahun anggaran dimana sasaran sering kali tidak tepat, atau ada kecenderungan asal menghabiskan anggaran.
Pengawasan manajemen keuangan harus relevan dan optimal oleh lembaga audit internal, dan juga oleh Badan Pemeriksa Keuangan serta DPR. Pemeriksaan tidak hanya dibatasi dalam scope memverifikasi aspek legilitas dari keputusan pembelanjaan saja, tetapi juga harus memeriksa apakah perencanaan sungguh menjawab kebutuhan publik. Mekanisme kontrol akan efektif bila memperhitungkan tiga hal: laporan jelas, menggunakan sistem elektronik, dan budget mudah dikontrol (Ibid. OECD, Principles, 29).
Pengembangan mekanisme kontrol untuk menjamin transparansi itu akan semakin mempunyai dampak yang luas bila memperhitungkan kekuatan media. Media sangat berperan mendukung bekerjanya mekanisme whitstle-blowing. Whistle-blower akan lemah bila tidak mendapat dukungan media. Umpan balik masyarakat sangat dibutuhkan karena sekaligus berfungsi sebagai pengawasan dan penilaian terhadap pelayanan publik.

G.     Transparansi Berkat Media, Civil Society, dan Whistle-Brown
Media elektronik dan komputer memungkinkan pertukaran informasi dalam waktu riil yang singkat. Penggunaan teknologi informasi di dalam adminitrasi publik sangat membantu memecahkan banyak masalah, terutama memungkinkan pemerintah untuk mereorganisasi prosedur, membuat informasi semakin mudah diakses, dan mengurangi biaya operasional (OECD, Fighting Corruption and Promoting Integrity in Publik Procurement, 2005:90). E-Procurement adalah proses pengadaan barang dan jasa bagi kepentingan publik dengan menggunakan internet sebagai mekanisme untuk memfasilitasi atau menyelesaikan transaksi (Ibid. 223).
Civil society memegang peran penting sebagai salah satu sumber dalam mendefinisikan kebutuhan publik dan tuntutan-tuntutan yang perlu dikonsultasikan. Mereka juga diikutsertakan di dalam pengawasan dan evaluasi pengiriman atau penyelesaian barang/jasa/pekerjaan. Peran civil society sangat besar di dalam upaya pemberantasan korupsi yang menggerogoti pengadaan barang/jasa. Kelompok civil society tertentu akan lebih cocok mengawasi tahap tertentu pengadaan barang/jasa. Peran whistle-blower sangat penting untuk memecah situasi kerahasiaan atau tutup mulut yang dipaksakan oleh tindak korupsi atau konflik kepentingan (J.L. Fleishman, 1981:206-218). Di dalam upaya meniupkan peluit itu, sebetulnya ada tiga hal yang mau disingkap, yaitu ada ketidaksepakatan pelanggaran loyalitas, dan tindakan menuduh. Jadi dengan penyingkapan itu informasi yang masuk mau mengingatkan adanya tanda risiko korupsi atau konflik kepentingan.
Untuk mengubah budaya diam, secara internal pemerintah harus membangun mekanisme perlindungan whistle-blowers dengan menggariskan prosedur yang mudah diikuti. Dengan belajar dari rekomendasi Komisi Standar Kehidupan Publik Pemerintahan Inggris, akan sangat bermanfaat untuk regulasi perlindungan whistle-blowers bila kita mencermati beberapa langkahnya (OECD Working Papers, 2000:14): (i) harus ada pernyataan tegas bahwa pelaporan pelanggaran korupsi akan ditanggapi serius dalam organisasi asal indikasinya bisa dipertanggungjawabkan; (ii) konfidensialitas pelapor dilindungi karena informasinya memang diharapkan dan memberi kesempatan mengemukakan keprihatinan itu diluar jalur sturktur manajemem; (iii) sanksi akan diberikan terhadap siapa saya yang membuat laporan palsu atau tuduhan jahat; (iv) memberi indikasi cara yang baik bagaimana keprihatinan itu akan diangkat di luar organisasi.

H.      Transparansi Menghadapi Korupsi Kartel-Elite
Korupsi kartel-elite biasanya mendapat dukungan jaringan politik (partai politik), ekonomi (pengusaha), aparat penegak hukum, dan birokrasi dalam situasi sosial-politik yang ditandai dengan ciri-ciri (M. Johnston, 2005:89): (i) para pemimpin menghadapi persaingan politik dalam lembaga-lembaga yang masih lemah; (ii) sistem peradilan penuh kompromi atau korup; (iii) partai politik tidak benar-benar mengakar dalam masyarakat, tapi lebih mewakili elite yang bersaing; (iv) birokrasi terlau besar dan rentan korupsi. Maka suasana politik penuh risiko dan ketidakpastian.
Korupsi kartel-elite bukan hanya masalah penyalahgunaan kepercayaan oleh kekuasaan politik untuk kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi korupsi jenis ini menjadi cara yang dipakai elite untuk menggalang dukungan politik dari masyarakat serta memenangkan kerjasama dengan lembaga legislatif, penegak hukum, dan birokrasi (F. London, 2008:10). Korupsi jenis ini biasanya juga menggunakan strategi komunikasi politik yang canggih untuk merekayasa opini publik. Dalam setiap investigasi terhadap dugaan korupsi jenis kartel-elite ini, akhirnya yang dijadikan kambing hitam hanya oknum atau salah satu pengurusnya, bahkan lebih sering mereka dilindungi. Oleh karena itu harus ada transparansi politik, manajemen, dan hukum.

Wednesday, February 19, 2020

Cerpen Ketika Kepergian Dapat Merubah Segalanya

Pagi hari pukul 05.00 WIB. Udara masih terasa segar. Waktu yang tepat untuk memeluk bantal guling sambil mimpi bertemu pangeran! Udara yang dingin bertiupkan angin segar membuat kelopak mata rasanya semakin erat mengatup, sukar untuk dibukakan. Aku memandang ke luar jendela dengan mata mengantuk. Angin sejuk menerpa wajahku, sehingga membuat mataku terbuka. Tak lama kemudian, Ibuku datang menghampiriku membawa segelas air susu coklat, pas sekali dengan minuman kesukaan ku. Ibuku memang paling tau dengan semua kesukaanku. 

Hari semakin siang, aku pun segera bergegas membereskan tempat tidurku yang cukup berantakan. Lalu setelah itu aku segera mandi dan membantu Ibu menyelesaikan pekerjaan rumah. Semuanya telah selesai, aku dan Ibu ku duduk di depan rumah, aku bercerita kepada Ibu tentang apa yang sedang aku alami. Ya,aku dan Ibu ku seperti layaknya seorang teman, lebih tepatnya lagi seperti teman curhat. Ketika sedang asik-asiknya bercerita Papaku ternyata sudah terbangun dari mimpinya. Ibu menyuruhku menyiapkan secangkir kopi dan kue, namun aku tidak mendengarnya aku malah acuh dan pergi ke tempat tidurku. 

Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Temanku datang ke rumahku dan menanyakan aku kepada Ibu. Akupun keluar kamar dan menghampiri temanku yang sedang duduk di kursi depan rumah. Temanku mangajakku berlibur ke rumahnya di Cijulang.Namun, aku tidak mungkin diijinkan pergi oleh kedua orang tua ku untuk pergi ke sana. Sampai akhirnya, aku berusaha membohongi kedua orang tua ku, aku bilang kepada mereka kalau aku akan menginap di pesantren selama satu minggu. 

Kedua orang tua aku pun mengijinkan aku untuk pergi ke pesantren. Sebelum aku pergi, Ibuku menasehatiku supaya aku tidak menjadi anak yang nakal dan Papaku bilang jangan sampai membohongi Papa dan Ibu, bila kamu berbohong kamu akan tau sendiri akibatnya. Aku pun tidak mendengarkan omongan Papaku itu, aku dan temanku langsung berpamitan kepada Papa dan Ibu.  Kita berdua pergi ke terminal, kita menumpangi bus yang jurusannya ke Cijulang. Tanpa kami duga, mobil bus yang kami tumpangi kami tabrakan dengan sebuah sepeda motor. Seluruh orang yang ada di Bus itu pun terkejut panik termasuk aku dan temanku. Aku langsung berpikir, apa ini akibat dari aku membohongi kedua orang tua ku? Setelah semuanya selesai. Bus kembali melaju. Tak terasa kita pun akhirnya sampai di rumah temanku dan kita langsung beristirahat. 

Hari terus berganti, namun hatiku begitu tidak tenang. Aku coba menghilangkan rasa takut yang selalu menghantuiku namun tetap tidak bisa. Aku mencoba pergi bersama temanku ke Kolam Renang, disana kita berenang, bersenang-senang, tertawa gembira. Sekejap kegembiraan itu hilang, berganti menjadi kesedihan. Papaku menelpon aku, memberi tahukan bahwa Ibu masuk Rumah Sakit. Keesokan harinya aku aku pulang, dan aku segera pergi ke Rumah Sakit tempat di mana Ibuku dirawat. Dan ternyata benar, Ibu sudah berbaring tak berdaya di sebuah ruangan dan tidur dengan pasrahnya diatas kasur. Ku pandangi raut wajah Ibuku tanpa terasa air mataku jatuh membasahi pipiku dengan tangisan penuh penyesalan. 

Hari demi hari terus ku lewati, namun Ibuku tetap tertidur tak berdaya. 9 hari sudah aku menemani Ibuku di Rumah Sakit. Jam 04.00 WIB, aku mencoba membangunkan Ibuku, namun Ibuku tidak terbangun, Papahku mencoba untuk membangunkan Ibu, namun Ibu tetap juga tidak terbangun. Papa segera memanggil Dokter. Namun, Ibu sudah tidak dapat tertolong. Sehelai kain putih menutupi sekujur badan dan muka Ibuku. Aku dan keluargaku menjerit, menangis tak menyangka seakan tidak percaya Ibu akan pergi begitu cepat dan akan pergi untuk selama-lamanya. Aku menyesal, telah menyianyiakan Ibu selama beliau masih ada. Aku berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama lagi dan aku akan menjadi anak yang Shalehah, berbakti kepada Papa dan keluarga serta aku ingin membahagiakan Papah, adik, kakak dan keluarga-keluargaku. Selama aku bisa, aku akan melakukannya, demi Ibuku tercinta dan demi keluargaku.