Wednesday, February 15, 2023

BIOGRAFI RINGKAS PAHLAWAN NASIONAL (FORMAT MS. WORD)

BIOGRAFI RINGKAS PAHLAWAN PATTIMURA, TUANKU IMAM BONJOL, RA. KARTINI, CUT NYAK DHIEN, PANGERAN DIPONEGORO, PANGERAN ANTASARI 

BIOGRAFI PATTIMURA
“SANG PAHLAWAN DARI SERAM SELATAN”
PROFIL PATTIMURA
Nama : Kapitan Pattimura
Lahir : Minggu 8 Juni 1783, Haria, pulau Saparua, Maluku
Meninggal : 16 Desember 1817, Ambon, Maluku
Ayah : Frans Matulesi
Ibu : Fransina Silahoi.
Zodiac : Gemini
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam
BIOGRAFI PATTIMURA
Pahlawan yang gambarnya pernah terpajang di uang kertas seribu rupiah tersebut memiliki nama lengkap Thomas Matulessy. Ia lahir di Maluku, tepatnya di daerah Hualoy, Seram Selatan pada tanggal 8 Juni 1783. Konon katanya, dalam buku biografi pattimura yang ditulis oleh M. Sapija dituliskan bahwa pahlawan dari Maluku ini merupakan keturunan dari bangsawan. Gelar bangsawan tersebut didapatkannya dari ayah Pattimura yang bernama Antoni Mattulessi. Sedangkan ayahnya mendapatkan gelar dari kakeknya yang bernama Raja Sahulau. Putra dari pasangan Frans Matulesi dan Fransina Silahoi ini meninggal dunia pada usia yang terbilang masih muda, 34 tahun, tepatnya pada tanggal 16 Desember 1817.

BIOGRAFI TUANKU IMAM BONJOL
“SEORANG GURU AGAMA DARI TANAH BONJOL”
PROFIL TUANKU IMAM BONJOL
Nama : Tuanku Imam Bonjol
Lahir : 1772, Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia
Meninggal : 6 November 1864, Kota Manado, Indonesia
Makam : Desa Lotta Kec. Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara
Warga Negara : Indonesia
Ayah / Ibu : Bayanuddin / Hamatun
Agama : Islam
BIOGRAFI TUANKU IMAM BONJOL
Pada tahun 1821 terjadi perang padrie yang di pimpin oleh tuanku imam bonjol. Perang ini merupakan perang antara kaum padre yang ingin belajar agama dengan baik dan benar melawan kaum adat yang dimotori oleh pemerintahan Belanda. Dengan perlawanan yang keras dari kaum padre membuat seluruh pasukan Belanda menjadi menyerah. Pada tahun 1824 pemerintahan Belanda mengadakan perjanjian damai yang lebih dikenal dengan perjanjian masang. Tetapi tidak membutuhkan waktu yang lama, perjanjian damai tersebut juga dilanggar sendiri oleh pemerintahan Belanda. Cerita tentang pernah padrie dan perjanjian masang banyak diceritakan di berbagai buku biografi Tuanku imam bonjol.

BIOGRAFI RA. KARTINI
PROFIL RA. KARTINI
Nama Lengkap : Raden Ajeng Kartini
Nama Lain : Raden Ayu Kartini, RA Kartini
Tanggal Lahir : 21 April 1879
Zodiac : Taurus
Tempat Lahir : Bendera Belanda Jepara, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Tanggal Meninggal : 17 September 1904
Tempat Meninggal : Rembang, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Dikenal karena : Emansipasi wanita
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam
Pasangan : K.R.M. Adipati Ario Singgih, Djojo Adhiningrat
Anak : R.M Soesalit
BIOGRAFI RA. KARTINI
Pada tahun 1903 Kartini menikah dengan Bupati Rembang. Akan tetapi dalam profil dan biografi RA Kartini menyebutkan, pernikahan tersebut adalah desakan dari orang tua. Banyak orang yang memperkirakan pada saat menikah Kartini masih ingin hidup dengan bebas. Untuk membuat orang tua menjadi bangga, wanita ini lebih baik mengikuti keinginan orang tua. Tapi memang takdir berkehendak lain dimana setahun setelah menikah Kartini harus di panggil oleh Yang Maha Kuasa.

BIOGRAFI CUT NYAK DHIEN
“RATU PERANG DARI ACEH”
PROFIL CUT NYAK DHIEN
Nama : Cut Nyak Dhien
Lahir : 1848, Lampadang, Kesultanan Aceh
Meninggal : 6 November 1908, Sumedang, Hindia Belanda
Dikenal karena : Pahlawan Nasional Indonesia
Agama : Islam
Pasangan : Ibrahim Lamnga, Teuku Umar
Anak : Cut Gambang
SK Presiden : Keppres No.106 Tahun 1964, Tgl. 2 Mei 1964
BIOGRAFI CUT NYAK DHIEN
Cut Nyak Dhien alah salah satu pahlawan nasional pra kemerdekaan yang paling dikenal oleh masyarakat indonesia, Cut Nyak Dhien dilahirkan di Aceh Besar di wilayah VI Mukimm, terlahir dari keluarga bangsawan Cut Nyak Dhien sebenarnya merupakan keturunan minangkabau, leluhurnya adalah pejabat kerajaan yang dikirim ke Aceh saat kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Aceh saat itu merupakan wilayah terpenting di bumi bagian selatan, sebagai penghasil rempah-rempah paling utama di dunia, perairan wilayah nusantara sangat padat saat itu, mempelajari biografi Cut Nyak Dhien akan membawa kita kepada kejayaan nusantara masa lampau.

BIOGRAFI PANGERAN DIPONEGORO
Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 dan wafat di Makassar Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun. Diponegoro adalah seorang pahlawan Nasional Indonesia dan seorang putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisurui) yang berasalari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo.
RIWAYAT PERJUANGAN PANGERAN DIPONEGORO
Perang Diponegoro berawal ketika pihak ketika pihak Brlanfa memasang paotk ditanah Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat isitiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo dan mebuat markas di sebuah goa yang beranama goa selaring. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang stabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat yang dikobarkan Diponegoro membawa membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Slah seorang tokoh agama di Surakarta Kyai Maja ikut bergabung dengan Pangeran Diponegoro di goa selarong. Selama perang ini kerugian belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus diupayakan bel;anda untuik menangkap Diponegoro bahkan syaembara dipergunakan. Hadiah yang diberika 50.000 gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro, sampai akhirnya Diponegoro diatangkap pada tahun 1830.

BIOGRAFI PANGERAN ANTASARI
“PAHLAWAN DARI KOTA BANJAR”
PROFIL PANGERAN ANTASARI
Nama : Pangeran Antasari
Lahir : 1797, Banjar, Kalimantan Selatan
Meninggal : 11 Oktober 1862 Bayan Begok, Kabupaten Barito Utara,
Kalimantan Tengah, (umur 53)
Makam : Taman Makam Perang Banjar, Banjarmasin
Ayah : Pangeran Masud bin Pangeran Amir
Ibu : Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman
BIOGRAFI PANGERAN ANTASARI
Pada tanggal 14 maret tahun 1862, pangeran antasari diberi sebuah gelar oleh pemimpin kesultanan banjar pada waktu itu dengan gelar panembahan amirudin khalifatul mukminin. Nama awal beliau bukanlah pangeran antasari tetapi gusti inu kartapati. Orang tua dari pangeran antasari adalah pangeran mas'ud dan ibunya adalah Gusti hadijah. Pangeran antasari memiliki saudara perempuan yang bernama ratu antasari. Adiknya menikah dengan seorang sultan yang bernama sultan muda abdurahman. Tetapi suami adiknya meninggal terlebih dahulu sebelum mereka mempunyai keturunan. Dalam biografi pangeran antasari, beliau tidak hanya dianggap sebagai kepala suku di banjar. Tetapi diberbagai tempat lainnya di Kalimantan.

Data diatas adalah sebagian Biografi Ringkas Pahlawan Nasional Pattimura, Tuanku Imam Bonjol, RA. Kartini, Cut Nyak Dhien, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari. Untuk file lengkapnya format Ms. Word bisa di download pada link dibawah ini:


Tuesday, February 14, 2023

MODUL ACT POLITEKNIK PELAYARAN FORMAT MS. WORD (BAB IV)

ACT
ADVANCE CHEMICAL TANKER

BAB IV
HEALTH AND SAFETY PRECAUTION

4.1 Safe Working Practices Including Risk of Assasment and Personel Shipboard Safety Relevant To Chemical Tanker
Safe practices when handling noxious chemical cargo
Chemical tanker procedure
It is essential on chemical tankers that everyone knows his ship’s safety precautions thoroughly prior handling noxious chemical cargo. Also the master/chief officer must assume responsibility for this. Guidelines listed below are for general reference, prudent mariner should also aware of ship specific limitations.

Requirements of MARPOL Annex II for chemical tankers
MARPOL Annex II contains extensive regulations about the loading, carriage and discharge of noxious liquid cargoes, as well as the treatment of cargo residues remaining on board, washing of empty tanks and the final disposal of the contaminated washing medium.

Ship shore safety guideline for handling bulk chemicals
Ships should remain adequately secured in their moorings. Alongside piers or quays, ranging of the ship should be prevented by keeping all mooring lines taut: attention should be given to the movement of the ship caused by wind, currents, tides or passing ships and the operation in progress.

Cargo pump room hazards
On tankers equipped with a cargo pump-room, this is a potentially hazardous enclosed space. Pump alarms and trips, level alarms etc. should be tested regularly, and in any case before commencing cargo handling operations, to ensure that they are functioning correctly. The results of such tests should be recorded.

Cargo hoses handling, connection and use
A modem cargo hose represents skilled engineering and, unless wrongly used, can be relied upon to contain the cargo. Nevertheless, it should always be treated as the weakest link in the cargo containment and transfer system, so correct handling and use of hoses is important.

Cargo handling safety equipments
A breathing apparatus (compressed air type 200 atm) should be kept ready for immediate use if sudden entry into a gas-filled pump room should become necessary. Eye washing bottles available on deck and in pump rooms. Expiosimeter and taximeter available.

Various stages of cargo loading operation
Commencement of loading should be slow and, before the foil loading rate is used, both ship and shore must be satisfied that the lines are correctly set and that there is no leak in the system. At the start of loading, and at regular intervals through out the process, a check should be made that cargo is not leaking anywhere.

Procedure for discharging dangerous chemical cargo at sea - various restrictions
Operation of ships transporting noxious liquid chemicals in bulk, which when accidentally released into the sea horn tank cleaning or deballasting operations may pose a serious threat to marine enviroment and therefore justify the application of special anti pollution measures that need to be considered.

Restriction of radio equipments and other mobile devices in cargo working areas
During medium and high frequency radio transmissions significant energy is radiated, which can create a danger of incendive sparking by inducing an electrical potential in unearthed steelwork. The use of medium or high frequency main radio transmission equipment should therefore be prohibited in port and during ship to ship cargo transfers.

Isolation of cargo tanks and piping systems
When a single parcel of cargo is carried in several tanks served by a common pipeline system, containment within each tank depends upon the tightness of the inlet valve. Due to the pressure differential on either side during sequential loading into or discharge from such tanks, the tightness of a single valve should not be relied upon to prevent the entry or escape of cargo.

Ship shore cargo connection safe method
The connection at the manifold of hoses or metal cargo arms for cargo handling is the primary cargo connection between ship and shore, and it is essential that both parties take proper care preparing for the connection. Flange faces, gaskets and seals used at this point should be clean and in good condition. Minimum standards for hoses are laid down in the IBC Code.

Venting of cargo tanks safety procedure
Ventihg of cargo tanks during cargo transfer or cargo related operations must be carried out in accordance with applicable international, national, port and terminal regulations. Tank vent system outlets are located at a safe distance from all areas where personnel who are not involved in cargo work may be present, to ensure that toxic vapours are diluted to a safe level of concentration before they can reach such an area.

Ship to ship transfer operation
The ship to ship (STS) transfer of cargoes carried on chemical tankers is a frequent operation, and the following section addresses some special safety aspects of the preparations and procedures that may be found necessary for STS operations.

Cargo unloading operation safety precautions
Just prior to commencing discharge the responsible officer should check that the cargo pipeline system is set correctly, that correct valves are open, that valves not being used are closed, and that the cargo venting system is appropriate for the cargo operation.

Liaison between ship and shore
Operations concerning cargo handling, tank cleaning and pre-wash, ballasting and Bunkering require an exchange of information between the ship and terminal before the ship arrives or after arrival.

Ship checks prior to arrival
When approaching a port to load or discharge cargo, there are important checks that be made by the ship in time to allow any necessary work to be done.

Preparing a cargo tank atmosphere
For some cargoes the IBC Code requires vapour spaces within cargo tanks to have specially controlled atmospheres, principally when the cargo is either air reactive resulting in a hazardous situation, or has a low auto-ignition temperature, or has a wide flammability range

Preparation for receiving nitrogen from shore
Care should be taken to ensure that the valves on the loading line between the shore manifold and the ship’s tank are operated the correct sequence, so that the ship is in control of the nitrogen flow. The ship should station a crew member at the loading manifold valve during the operation.

Cargo care during transit
Regular checks on tank contents should be made to detect an unexpected change in liquid level. Cargoes that need cooling or heating must be monitored daily and a temperature log kept. Some cargoes are liable to self-react under certain conditions. Cargoes that may self­react should be monitored daily in order to detect any abnormal behaviour at an early stage.

Chemical Tanker
International regulations for control of discharge from chemical tankers
Importance of environmental care
The growing importance of environmental care demands that the crews of chemical tankers have a clear understanding of the pollution regulations.
The International Convention for the Prevention of Marine Pollution from Ships 1973, as modified by the Protocol of 1978, known as MARPOL 73/78, is the principal regulation covering protection of the marine environment. MARPOL Annex I covers procedures for control of oil and oil-like substances, such as cargo or fuel, and applies to all ships including chemical tankers.
MARPOL Annex II contains extensive regulations about the loading, carriage and discharge of noxious liquid cargoes, as well as the treatment of cargo residues remaining on board, washing of empty tanks and the final disposal of the contaminated washing medium.
MARPOL Annex II affects all ships carrying noxious liquid cargoes in bulk. All personnel with responsibility for cargo operations on chemical tankers should be aware of the basic requirements of MARPOL, and take care that discharges into the sea never exceed the permitted limits.

Main requirements of MARPOL Annex II
MARPOL Annex II categorises substances posing a threat of harm to the marine environment, with chemicals posing the greatest threat having the most severe controls placed upon their shipment and severe limitations on their discharge into the sea. A principal way of meeting the need to limit discharges to the sea is to reduce the residue that remains within a tank after unloading has been completed.
Every chemical carrier is provided with pumping and piping arrangements specially designed to ensure that each tank designated for the carriage of controlled substances can be emptied io well that the quantity of cargo remaining afterwards is less than the minimum quantity specified in MARPOL. For each tank an initial assessment of the residue quantity has to be made, called a stripping test. The results of this test are recorded, and are used as the basis for the procedures described. Only when the residue is shown to be less than the quantity prescribed by MARPOL Annex II may the tank be approved for the carriage of a controlled substance.
MARPOL then sets requirements for disposal of those residues, usually through dilution and use of shore reception facilities. It then specifies the records that must be kept of cargo work on board. Finally, it makes provision for inspections by authorities to confirm that the ship has complied.

Procedures and Arrangements (P & A) Manual for Each Ship
MARPOL Annex II requires that each chemical tanker be provided with a P & A Manual to achieve compliance with the regulations and to be able to demonstrate that compliance has been considered from the earliest design stage. The format of the P & A Manual and its contents must be as specified in MARPOL Annex II Appendix D, and be approved by the flag administration of the ship. The P & A Manual is concerned with the marine environmental aspects of cleaning of cargo tanks, and the discharge of cargo residues that may or may not be mixed with a washing medium. The results of the stripping test are recorded in it.
Ship’s officers should familiarise them selves thoroughly with the P & A Manual, and adhere at all times to operational procedures with respect to cargo handling, tank cleaning, stop handling, residue discharge, ballasting and deballasting. The master is obliged to ensure that the ship does not discharge into the sea any cargo residues, or mixtures of residue with water, unless such discharges are made in full compliance with the operational procedures contained in the P & A Manual, and that the equipment required by the Manual for such discharge is used.
The P & A Manual, together with the cargo record book and Certificate of Fitness, will be checked by the ship’s own flag administration and by port state control officers in order to confirm full compliance with the requirements of MARPOL Annex II.
It is now recognised that almost any discharge from a ship into the surrounding environment needs to be carefully considered in advance. Not only are chemical cargo residues, only water from machinery room bilges and overboard disposal of garbage strictly regulated, but funnel exhausts and ballast water have now been identified as requiring control.

Air pollution
Control of Ozone Depleting Substances (ODS), such as halogenated hydrocarbon gases, was established internationally in the early 1990s. In 1997, IMO adopted Annex VI to MARPOL, addressing ship’s emissions that are considered to be harmful to the atmosphere, or which can settle on land or into the sea.
Funnel emissions of different oxides in engine and incinerator exhausts are generally not susceptible to daily adjustment by a ship's crew, but will be dependant upon the grade of fuel used and the condition of the engines. However, the crew will be involved in control of cargo vapours by on board techniques, such as vapour return to shore while loading, reducing excess discharge of inert gas, and avoiding unnecessary evaporation of liquid cargo into the atmosphere while cleaning tanks.

Ballast water management
The intent of ballast water management is to minimise the transfer of marine organisme from one geographical region to another. The discharge of ballast water is now known to be responsible for the introduction of alien species into sensitive coastal waters, and the demand for ballast water management is an aspect of quarantine procedures rather than traditional pollution controls. IMO is seeking to encourage establishment of a single regime worldwide, in the manner of other Conventions, so that the present various requirements become standardised.

Cargo hoses for chemical tankers
A modern cargo hose represents skilled engineering and, unless wrongly used, can be relied upon to contain the cargo. Nevertheless, it should always be treated as the weakest link in the cargo containment and transfer system, so correct handling and use of hoses is important. Use and handling may differ from type to type of hose, or by manufacturer. The types of hoses normally encountered are either metallic, composite, PTFE (Poly Tetra Fluor Ethylene) or polypropylene.
A ship’s own cargo hoses are frequently used on board chemical tankers, during loading and discharge of cargo at a terminal, during cargo transfers between ships and during tank cleaning. A ship .should liave on board appropriate manufacturer’s material describing the hoses carried, and specifying any limitations in their use.

Certificates, marking and testing of cargo hoses
A ship’s own cargo hoses must be tested and certified as required. The minimum requirements for the construction and testing of ships' cargo hoses are specified in the MCI Codes. All cargo hoses are required to be designed for a bursting pressure not less than 5 times the maximum pressure that the hose Will be subjected to during cargo transfer operations. New lengths of cargo hose, before being placed in service, should be tested hydrostatically at ambient temperatures to a pressure not less than IX times its specified maximum working pressure, but not more than two fifths of its bursting pressure.
A manufacturer’s test certificate will provide information about the hose’s construction method, its performance range and its nominal sizes. While in service, hoses should regularly be visually inspected, and they should be pressure tested at least annually. Test results should be recorded in a cargo hose condition log book.
Cargo hoses are required to be marked with their specified maximum working pressure, which should not be less than 10 bar gauge. Hoses used in the transfer of cargoes at other than ambient temperature should be marked with the applicable minimum and maximum service temperature range.

Cargo compatibility
Hoses used for the transfer of chemical liquids and vapours during cargo handling operations should be compatitble with the nature and temperature of the chemical, any limitations of the cargo properties and temperatures listed by the hose manufacturer should always be observed.

Handling, connection and use
When a hose is being move about the ship it should always be lifted and carried. It should not be dragged over the ship’s fittings such as pipework or walkways, or rolled in a manner that twists the body of the hose, nor hoisted on a crane or derrick using a single wire strop about its mid-length. Hoses should not be allowed to come into contact with hot surfaces such as steam pipes.
Before connection, cargo hoses should be examined for any possible defects that may be visible inside the hose or on the outer covering. These may include signs of blistering, abrasion, flattening or evidence of leaks. Hoses with any damage should be assessed and a positive decision made on whether they can continue to be used safely. Seriously damaged or leaking hoses should not be used.
Gaskets used between hoses and at the ship’s manifold should be checked for suitability before use. Flanges on both the hose and manifold should be checked for cleanliness and good condition. Bolts and nuts used should be of the correct size and material, with a bolt fitted to every hole in the flange and tightened correctly.
When in use, a cargo hose should be properly supported along its length to avoid excessive bending of the hose or its weight hanging from the manifold connection. This is especially important when significant tidal or draught variations can cause the relative heights of the ship and shore manifolds to alter a great deal, and the hose support to require frequent adjustment. Fendering, stools or chocks can be used to provide support under the hose, particularly at the manifold and at the shipside rail. When a hose is supported from above, bridles and saddles should be used to spread the load, and may require more than one supporting point. A single wire strop should not be used to support a cargo hose near its midlength. Protection should be provided at points along tire hose where chafing or rubbing could occur.
Hoses should not be subjected to pumping pressures that exceed the rated working pressure. If this happens, the hose should be replaced by another, and retested before any further use. After use, hoses should be depressurised and drained before disconnection.

Ship/Shore Insulation, Earthing and Bonding
It is essential that the cargo hose does, not provide the primary path for static electricity between the ship and the jetty, otherwise there is a possibility of a static electricity discharge at the manifold when offering up the hose for connection or when breaking the connection after the cargo transfer. The necessary electrical discontinuity should be achieved with an insulating flange or a single length of non-conducting hose in the hose string between the ship and the shore.

Storage and maintenance
After they have been used for cargo transfer, hoses should be washed out, drained and dried. They should be stored horizontally on solid supports. If hoses are stored in the open, they should be protected from direct sunlight. No attempt should be made on board to repair damaged or leaking hoses.

Ship/shore safety checklist for modern chemical tankers
Cargo loading and unloading operation of seagoing chemical carriers involved numerous critical procedure that need to be precisely monitored. Below Ship/shore check items are described as guidance only.

A naked light or open fire comprises thefollowing: flame, spark formation, naked electric light or any surface with a temperature that is equal to or higher than the minimum ignition temperature of the products handled in the operation. The use of open fire on board the ship, andwithin a distance of 25 metres of the ship, should be prohibited, unless all applicable regulations have been met and agreement reached by the port authority, terminal manager and the master. This distance may have to be extended for ships of a specialised nature, such as gas tankers.

Data diatas merupakan sebagian ketikan ulang format MS. Word dari Modul ACT Politeknik Pelayaran Format MS. Word (BAB IV). Untuk lengkapnya dapat di download pada link dibawah ini:

MAKALAH APLIKASI PELAYANAN ADMINISTRASI PERPANJANGAN PERIZINAN PAUD di UPTD DIKNAS BENGKULU TENGAH

MAKALAH
APLIKASI PELAYANAN ADMINISTRASI PERPANJANGAN
 PERIZINAN PAUD DI UPTD DIKNAS BENGKULU TENGAH

A. Hasil Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan
Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah yang telah selesai dibuat diharapkan dapat membantu meningkatkan profesionalisme pegawai pada Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah dalam mengelola data perizinan PAUD. Sistem Informasi yang dibuat ini ditujukan kepada tenaga administrasi dalam memberikan laporan yang cepat dan akurat terhadap kebutuhan data dan informasi.
Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic 6.0. Untuk menjalankan sistem informasi yang telah dibuat, tidak serumit yang dibayangkan. Hasil dari sistem informasi yang dibuat disesuaikan dengan rancangan yang telah dibuat pada bab-bab sebelumnya terdiri dari Tampilan menu Login yang digunakan untuk masuk kedalam Sistem, tampilan menu Utama terdiri dari Menu File, Menu Laporan, Menu Pengaturan dan menu Keluar.

1. Tampilan Menu Login Sistem
Menu login sistem merupakan suatu menu atau halaman yang digunakan sebagai proses verifikasi awal oleh pengguna yang menjalankan program Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah. Sebelum dapat menjalankan Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah secara menyeluruh, seorang pengguna (admin) terlebih dahulu harus melakukan proses Login. Tampilan login Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah seperti terlihat pada gambar 4.1 dibawah ini:

2. Halaman Menu Utama
Halaman menu utama merupakan suatu halaman yang menampilkan secara keseluruhan dari Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah yang telah dibuat. Tampilan menu utama seperti terlihat pada gambar 3. dibawah ini :

a. Tampilan Menu File
Menu File ini merupakan menu yang penting, dimana pada sub menu File ini terdapat sub-sub menu yang digunakan untuk mengentrikan atau memasukkan data-data yang berhubungan dengan Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah. Menu File pada Sistem Informasi yang dibuat saat ini memiliki 3 (tiga) sub menu terdiri dari : sub menu Pemilik PAUD, sub menu data PAUD dan sub menu Perpanjangan Izin Operasional seperti terlihat pada gambar 4. dibawah ini:

b. Tampilan Menu Laporan
Sub menu laporan pada Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah merupakan menu yang digunakan untuk menampilkan laporan yang siap dicetak kedalam lembar kertas kerja hasil dari pengolah data. Pada menu laporan pada Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah ini, memiliki sub menu terdiri dari 4 (empat) sub menu yaitu : sub menu Laporan Surat Izin Perpanjangan Operasional PAUD, sub menu Laporan Data PAUD Naungan UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah, sub menu Laporan Daftar PAUD memperpanjang Izin Operasional dan Rekapitulasi Perpanjangan Izin Operasional PAUd yang masing-masing menu berfungsi untuk menampilkan hasil pengolah data sistem Sistem Administasi Perpanjangan Perizinan PAUD Kabupten Bengkulu Tengah. Tampilan menu laporan pada Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah seperti terlihat pada gambar 8. dibawah ini.

c. Sub Menu Pengaturan
Sub menu pengaturan merupakan menu yang digunakan untuk menambah, menghapus maupun meng-edit daftar admin yang dapat menjalankan Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah. Pada sub menu setting memiliki 1 (satu) sub menu admin yang digunakan sebagai menu input data admin. Tampilan menu pengaturan seperti terlihat pada gambar 4.13. dibawah ini:

d. Sub Halaman Menu Keluar
Menu Keluar merupakan menu yang digunakan untuk keluar dari Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah. Setelah menu Keluar di pilih, sistem akan memberikan konfrimasi berupa pertanyaan “Yakin Anda Akan Keluar dari Aplikasi ini?”. Apabila admin memilih tombol Yes maka sistem informasi akan tertutup, namun apabila admin menekan tombol No, maka admin akan kembali ke menu Utama Sistem yang telah dibuat. Adapun tampilan menu Keluar pada Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah adalah sebagaimana terlihat pada gambar 15. dibawah ini:

B. Hasil Pengujian
Adapun dalam pengujian Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah terdiri dari:
1. Tampilan Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah.
2. Kemudahan Program
3. Pengujian Kebutuhan dan Kebenaran Data
4. Pengujian Keamanan dan Ketelitian
5. Pengujian Laporan

C. Kesimpulan
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah merupakan suatu Unit yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah dibawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkulu dengan salah satu kegiatannya adalah berhubungan dengan izin operasional lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah saat ini dalam melakukan pengolahan data PAUD telah memanfaatkan teknologi melalui penggunaan komputer, akan tetapi belum integrasi kedalam sistem komputer dan belum terprogram secara khusus pada suatu Sistem Informasi. Sedangkan kegiatan secara umum masih menggunakan cara-cara konvensional dengan melakukan pencatatan dalam kertas kerja dalam format aplikasi, sehingga memerlukan waktu yang lama untuk dalam pemrosesan data PAUD. Proses pemasukan data terhadap Sistem Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan Operasional Pendirian PAUD Pada UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah yang dilakukan dapat memberikan laporan berupa laporan Surat Izin Perpanjangan Operasional PAUD laporan Data PAUD Naungan UPTD Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah, laporan Daftar PAUD memperpanjang Izin Operasional dan Rekapitulasi Perpanjangan Izin Operasional PAUD.

D. Saran
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah sebaiknya menggunakan Sistem Administrasi Perpanjangan Perizinan PAUD Kabupten Bengkulu Tengah untuk meningkatkan professional kinerjanya. Sistem yang dibuat sangat penting bagi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Diknas Kabupaten Bengkulu Tengah.

Data diatas merupakan sebagian data dari Makalah Aplikasi Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan PAUD di UPTD DIKNAS Bengkulu Tengah. Untuk lengkapnya dapat di download pada link dibawah ini:
DOWNLOAD Makalah Aplikasi Pelayanan Administrasi Perpanjangan Perizinan PAUD di UPTD DIKNAS Bengkulu Tengah Lengkap

Monday, February 13, 2023

DESKRIPSI RINGKAS SISTEM CLIENT SERVER, POINT TO POINT, TERKLUSTER

SISTEM CLIENT SEVER
Client-Server merupakan suatu paradigma hubungan antara computer yang menjadi penyedia dan computer yang menjadi penerima. Hubungan suatu CLIENT-SERVER adalah computer meminta sesuatu ke komputer lain dan komputer lain memenuhi permintaan. Hubungan ini menggunakan jaringan agar tetap terhubung satu sama lain,menggunakan metode LAN, MAN atau WAN. LAN menghubungkan suatu Client ke Server yang lain dengan jarak yang sangat dekat, MAN menghubungkan jarak yang sedang antara Client dan Server dan WAN menghubungkan Cient dengan Server yang lain dengan jarak yang jauh, WAN bisa juga disebut dengan INTERNET. Server digunakan untuk mengirimkan dan menyediakan keperluan dari client. Dalam penyediaannya server dapat membatasi file dan data yang di minta oleh client hal tersebut dilakukan untuk mencegah suatu kejadian yang tidak terduga seperti server di serang dengan cara mengirim program tidak bertanggung jawab atau virus. Sehingga server memiliki hak yang lebih tinggi dibandingkan dengan client. SERVER atau KOMPUTER SERVER adalah suatu sistem komputer yang menyediakan layanan disebuah jaringan komputer yang dilengkapi dengan Processor cepat dan RAM yang besar, dilengkapi dengan sistem operasi khusus untuk server. Server mengontrol akses terhadap jaringan dan sumber daya yang terdapat di dalamnya seperti file atau printer, dan memberikan akses kepada Clients. CLIENTS adalah suatu system yang mengakses suatu system computer yang menyediakan layanan atau server melalui jaringan seperti LAN, MAN, WAN. Clients meminta data ke server dan server memenuhi permintaan tersebut yang dikirimkan melalui jaringan. Client Server terdiri dari 3 komponen pembentuk yaitu Client, Middleware, dan Server. Fungsi dari CLIENT-SERVER adalah untuk memudahkan pekerjaan dalam suatu sistem jaringan, yang diminta oleh client dapat dipenuhi oleh server dalam waktu singkat ataupun sebaliknya. Sehingga pekerjaan menjadi efisien. Berikut adalah tugas dari server dan client
Server
• Menerima dan memproses basis data yang diminta dari client
• Memeriksa autorisasi
• Melakukan query/pemrosesan update dan memindahkan response ke client
• Menjamin tidak terjadi pelanggaran terhadap integrity constraint
• Memelihara data dictionary
Client
• Mengatur user interface
• Menerima dan memeriksa sintaks input dari pemakai
• Memproses aplikasi
• Generate permintaan basis data dan memindahkannya ke server
• Menyediakan kontrol recovery
• Menyediakan akses basis data secara bersamaan
• Memberikan response balik kepada pemakai
Contoh aplikasi dalam CLIENT-SERVER adalah SKYPE. kita mengirimkan data ke SKYPE dan Server SKYPE menerima data yang CLIENT kirim dimana SERVER SKYPE menerjemahkan kode yang kita kirim ke servernya setelah diterjemahkan SERVER mengirimkan data ke CLIENT sesuai apa yang SERVER sudah terjemahkan sebelumnya dan sebaliknya. Adapun contoh aplikasi client server yang lain seperti Whatsapp Messenger dan sebagainya.

SISTEM POINT TO POINT
Bagian dari model sistem terdistribusi dimana sistem dapat sekaligus berfungsi sebagai client maupun server. Sebuah arsitektur dimana tidak terdapat mesin khusus yang melayani suatu pelayanan tertentu atau mengatur sumber daya dalam jaringan dan semua kewajiban dibagi rata ke seluruh mesin. Pola komunikasi yang digunakan berdasarkan aplikasi yang digunakan.
Kelebihan jaringan point to point
• Implementasinya murah dan mudah
• Tidak memerlukan software administrasi jaringan yang khusus
• Tidak memerlukan administrator jaringan
Kekurangan jaringan point to point
• Jaringan tidak bisa terlalu besar (tidak bisa memperbesar jaringan)
• Tingkat keamanan rendah
• Tidak ada yang memanajemen jaringan
• Pengguna komputer jaringan harus terlatih mengamankan komputer masing-masing
• Semakin banyak mesin yang disharing, akan mempengaruhi kinerja komputer.
Contoh: Game Counter Zero

SISTEM TERKLUSTER
Merupakan gabungan dari beberapa sistem individual (komputer) yang dikumpulkan pada suatu lokasi, saling berbagi tempat penyimpanan data (storage), dan saling terhubung dalam jaringan lokal (Local Area Network). Secara umum, sistem terkluster memiliki persamaan dengan sistem parallel dalam hal menggabungkan beberapa CPU untuk meningkatkan kinerja komputasi. Jika salah satu mesin mengalami masalah dalam menjalankan tugas maka mesin lain dapat mengambil alih pelaksanaan tugas itu. Dengan demikian sistem akan lebih handal dan fault toleran dalam melakukan komputasi. Dalam hal jaringan, sistem terkluster miri dengan sistem terdistribusi. Bedanya, jika jaringan pada sistem terdistribusi melingkupi komputer-komputer yang lokasinya tersebar maka jaringan pada sistem terkluster menghubungkan banyak komputer yang dikumpulkan dalam satu tempat. Dalam ruang lingkup jaringan lokal, sistem terkluster memiliki beberapa model dalam pelaksanaannya, yaitu:
Model asimetris
Pengawasan dalam model asimetris menempatkan suatu mesin yang tidak melakukan kegiatan apapun selain bersiap siaga mengawasi mesin yang bekerja. Jika mesin itu mengalami masalah maka pengawas akan segera mengambil alih tugasnya
Model simetris
Pengawasan pada model simetris tidak menerapkan mesin yang khusus bertindak sebagai pengawas.Sebagai gantinya, mesin-mesin yang melakukan komputasi saling mengawasi keadaan mereka. Mesin lain akan mengambil alih tugas mesin yang sedang mengalami masalah. Jadi jika dilihat dari uraian cara pengawasan diatas dan dari segi efisiensi maka mengunakan mesin model simetris lebih unggul daripada model asimetri. Hal ini disebabkan pada model asimetris terdapat masin yang tidak melakukan kegiatan apapun selain mengawasi mesin lain. Sedangkan pada model simetris mesin yang menganggur (hanya mengwasi mesin lain) ini dimanfaatkan untuk melakukan komputasi. Inilah yang membuat model simetris lebih efisien.

MODUL ACT POLITEKNIK PELAYARAN FORMAT MS. WORD (BAB III)

ACT
ADVANCE CHEMICAL TANKER

BAB III
PRECAUTION TO PREVENT HAZARDS

3.1. The Hazard and Control Measures Associated With Chemical Tanker Cargo Operation
Load Indicator
Load indicator harus dilengkapi untuk tanker kimia. Operasional tanker kimia sangat kompleks karena pada waktu bersamaan dapat melakukan kegiatan loading, discharging dan ballasting, oleh karenanya perlu secara menerus mengontrol dan memeriksa trim, tekanan beban pada kapal sebelum memulai maupun selama operasionalnya.

Data keselamatan
Awak kapal harus menyadari bahan kimia yang ditanganinya mengandung banyak resko, seperti mudah terbakar, beracun, korosi dan bilamana terjadi hal emergency segera dapat mengatasi (bersama pihak darat) nya. Bahaya-bahaya dari bahan kimia tersebut haruslah ditempelkan pada tempat-tempat umum seperti ruang akomodasi/rekreasi, gang-gang, dan lain-lain, termasuk juga “cargo plan” bersama “cargo hazard data sheet” untuk setiap muatan yang ditangani.

Perencanaan muatan
- Persiapan penempatan muatan selalu merencanakan trim positif bila melaksanakan pembongkaran, tanpa harus mengisi ballast.
- Rencana penempatan muatan sudah dipikirkan tahap-tahapan yang mana dulu dibongkar dan dimuat pada pelabuhan berkut.
- Memonitor hogging dan sagging. Periksa secara seksama distribusi beban dan penekanan pada loadicator.
- Periksa perencanaan muatan sesuai dengan stabelitas dari persyaratan kemampuan penyelamatan kapal seperti yang tertera dalam “loading dan stability information booklet”.
- Yakinkan persiapan loading dan discharge sesuai dengan rencanaan dimana langkah-langkahnya (ditunjukkan pada, lowchart berikut) telah sepenuhnya memuaskan.
- Dalam penempatan muatan, selalu melokasikan setiap muatan sesuai ketentuan IMO (tipe I, II dan III) dan jenis isinya (berdiri sendiri atau integral/gravity atau bertekanan).
- Muatan yang dapat bereaks, satu sama lainnya tidak ditempatkan pada tangki yang bersebelahan.
- Sistem perpisahan harus dipisah dengan double blind flange untuk mencegah kesalahan dalam penanganan kerangan.
- Slalu memeriksa muatan dengan ‘Cargo Hazard Data Sheef’ untuk kecocokan antar muatan.
- Muatan-muatan beracun tidak boleh ditempatkan pada tangki yang bersebelahan dengan produk-produk untuk makanan, obat-obatan dan industri kosmetk.
- Pisahkan sistim perpipaan ini dengan double blind flanging.
- Mempunyai pedoman pabrik mengenai daftar muatan yang cocok dengan lapisan yang ada pada setiap tangki muatan.
- Produk-produk yang berpolimerisasi (styrene, vinyl clorlde) tidak boleh berhubungan dengan sekat muatan yang memerlukan pemanasan (heating).
- Produk-produk yang mudah menguap (volatile) seperti aromatics, ketones, alcohols, dan sebagainya tidak boleh diletakkan bersebelahan dengan sekat muatan panas.
- Tangki bekas muatan yang berbau keras seperti minyak ikan, phenols, actanol, tall-oil, turpentine, molasses, dan sebagainya tidak boleh digunakan untuk muatan-muatan yang sensitive terhadap bau-bauan seperti glycols, vegetable oils, ehyl acetate, alcohols, bexane, heptane, acetone, phthalates, dan sebagainya.
- Bahan kimia (termasuk Naptha) tidak boleh diangkut di dalam tangki yang sebelumnya mengangkut timah hitam sebagai muatan terakhimya.
- Tangki yang berisi produk-produk dengan titik didih tinggi dan mempunyai tingkat kelarutan rendah terhadap air seperti minyak pelumas, pelumas additive, setelah dicuci bekas tangkinya akan meninggalkan sedikit lapisan minyaknya, tangki-tangki demikian tidak cocok untuk dimuat.
- Muatan sensitive seperti methanol. Sebelum memuat dengan muatan yang sensitive terhadap air (hatogenafed ketones) atau sensitive terhadap muatan chloride (alcohols, glycols) yakinkan bukaan tangki valve spindle glands sudah tertutup rapat diatas deck cuaca.
- Double valving umumnya tidak diperhitungkan cukup berguna untuk memisahkan antara muatan kimia: blind flanging sangat diperlukan. Lihat petunjuk IMO mengenai persyaratan pemisahan muatan.
- Periksa kerangan muatan kedap sebelum loading.
- Sebelum loading tiup heating coil diatas dek sebelum loading untuk meyakinkan tidak ada muatan tersisa.
- Setiap muatan kimia yang telah ditentukan ketidak kecocokannya dapat diangkut pada kapal yang sama yang menyediakan pemisahan antar muatan, agar diyakinkan dan termasuk:
- Muatan-muatan yang bereaksi dengan udara harus dipisahkan dari udara dengan menyelimuti muatannya dengan nitrogen murni.
- Sebelum loading, tangki-tangki termasuk saluran pipa, saluran ventilasi, yang menerima muatan tersebut harus diturunkan dibawah maksimum yang dibolehkan dengan cara purging nitrogen murni.
- Muatan yang dimuat dibawah penyelimutan nitrogen.
- Selama pelayaran tangki-tangki tetap dijaga terus menerus : rawan tekanan positip.
- Selama pembongkaran muatan, nitrogen diisi disesuaikan :e-gan kecepatannya.
- Muatan-muatan yang bereaksi dengan air laut dilengkapi dengan lapisan ganda yang membatasinya untuk mencegah kejadian pencampuran.
- Lapisan ganda dilengkapi dengan double bottom atau wing tank antara muatan dengan air laut.
- Kofferdam atau sejenisnya (tangki kosong) memisahkan muatan dengan tangki yang berisi air laut.
- Saluran pipa yang menujuh ke tangki muatan harus berdiri sendiri tidak berhubungan dengan muatan yang berisi air.
- Ventilasi harus terpisah
- Direkomendasikan setiap kapal menyusun daftar periksa (check list) yang berisi item­item yang diperiksa dan diuji sebelum masuk pelabuhan.
Muatan-muatan ini biasanya memerlukan selimut nitrogen memiliki titik embun rendah untuk menghentikan kelembaban air yang masuk jika memuat memerlukan pemanasan (heating) disyaratkan uap panas tidak digunakan.

Pemuatan
Sebelum memulai operasi
Perwira yang bertanggung jawab harus mendiskusikan operasi pemuatannya dengan pihak terminal berkenaan informasi yang akan mengkover sejumlah muatan berhubungan dengan kegunaan, yang akan dimuat, data-data bakunya, antisipasi temperatur muatan dari bermacam grade dan maksimum loading rate untuk setiap muatan.
Loading rate disesuaikan dengan kemampuan kapal, keriterianya mengacu ukuran pipa muat kapal dan sistim ventilasi yang digunakan. Loading rate yang statistislah disetujui. Bila memuat dengan beberapa jenis perintah pemuatan telah dipahami dan disetujui sebelum kedatangan kapal dan persiapannya sesuai perencanaan, serta ketentuan khusus seperti penghentian muat sementara untuk pengambilan sampel guna kontrol kualitas, atau termasuk penambahan additives muatan perlu diprediksi. Pemeriksaan ini boleh memerlukan berbagi form, seperti melihat sepintas lalu tutup ullage, kebersihan tangki yang dimasuki dan pemeriksaan dasar tangki.
Saluran dan sistim ventilasi harus diperiksa untuk menyesuaikan persyaratan khusus untuk setiap jenis muatan.
Pemuatan harus dimulai dengan rate yang rendah hingga memastikan muatannya masuk kedalam tangki yang ditentukan, memenuhi semua pipa dan atau struktur dasar tangki terisi semua. Tangki-tangki yang berhubungan dengan sistim muatan yang sama atau tangki yang bersebelahan harus diperiksa untuk mengetahui adanya kebocoran.
Setelah kondisi ini terpenuhi, loading rate yang disetujui bersama dapat dinaikkan sesuai dengan rencana.Jika beberapa muatan dimuat secara bersamaan, prosedur yang sama dapat dimulai sesuai perintah masing- masing gradenya.

3.2. Danger of Non-Compliance With Relevant Rules/Regulations
B. SIFATDAN BAHAYA MUATAN KIMIA BAGI KESEHATAN
Tujuan lnstruksional Khusus :
Setelah menyelesaikan pembelajaran ini peserta diklat mampu menjelaskan proses-proses pembakaran, peledakan, kondisi-kondisi yang potensial menghadirkan kebakaran/ledakan maupun pemahaman secara umum tentang paparan produk kimia, satuan-satuan ukuran konsentrasi dan efeknya terhadap kesehatan manusia.

1. POTENSI BAHAYA
Pembakaran/peledakan
Perbedaan dasar antara proses pembakaran dan peledakan ditunjukkan pada diagram di bawah ini.
Proses pembakaran adalah suatu reaksi eksotermis, yakni suatu reaksi yang mengeluarkan panas dimana diikuti kenaikan energi dan bersamaan dengan itu pula terjadi penguraian energinya. Peledakan adalah sebagai proses pertambahan tekanan dan temperatur yang amat cepat sebagai adanya reaksi eksotermis atau sebagai pelepasan energi secara amat cepat. Hal ini terjadi karena tidak adanya mekanisme untuk menguraikan energi sehingga laju reaksi pembakaran bertambah kelipatannya dan berakhir hingga semua unsur dalam reaksi kimianya terpakai.

Kondisi terciptanya kebakaran atau ledakan
Kebakaran atau ledakan hanya dapat teijadi jika ketiga situasi terjadi di bawah ini secara bersamaan
• Material yang mudah menyala
• Sumber penyalaan
• Kadar oksigen yang mendukung
Suatu sumber penyalaan dapat menghadirkan bahaya disebabkan karena adanya kemungkinan kesalahan manusia.

Kemungkinan terjadinya sumber penyalaan itu disebabkan:
• Merokok.
• Pekerjaan panas.
• Gesekan antara benda- benda metal.
• Pembakaran spontan.
• Listrik statis.

Listrik Statis
Pada umumnya terjadinya listrik statis disebabkan :
• Pelaksanaan penguapan
• CO2
• Lampu (penyalaan)
• Cairan/uap yang mengalir melalui pipa

Sistim Perlindungan Dengan Katoda
Sistim perlindungan dengan katoda dipasang pada dermaga atau kapal karena adanya perbedaan potensi listrik antara keduanya, yang mana dapat dikarenakan aliran yang besar mengalir sepanjang loading arms, dengan konsekuensi resiko dari loncatan bunga api bila sambungannya patah. Untuk menjaga hal ini, Insulas, sebaiknya diletakkan ke dalam setiap loading arms dalam posisi mana hal demikian tidak akan terputus oieh hubungan karena suatu sebab. Kabel bounding yang tersedia pada dermaga-dermaga jarang sekali mencukup, besar diameternya untuk menghindar, resiko dan percikan bunga api pada hubunganya dengan loading arms.

Daerah bisa terbakar
Batas dan daerah bisa terbakar (meledak) didefmisikan sebaga, suatu batas antara konsentrasi minimum atau maksimum dari uap di udara (% volume) dalam bentuk pencampuran yang mudah terbakar/meledak biasanya disingkat LFL (Lower Flammable Limit) atau batas bawah bisa terbakar hingga UFL (Upper Flammable Limit) atau batas atas bisa terbakar.

Flash Point (FP) = Titik Nyala
Titik nyala suatu bahan didefinisikan sebagai suhu terendah dari cairan yang memberi cukup uap dalam bentuk campuran dengan udara yang mudah terbakar kalau uap tersebut dipanaskan dan pada keadaan tertentu. Keberadaan titik nyala yang rendah diamankan dari segaia resiko yang ada.

Auto Ignition Temperalure (AIT) - Suhu Penyalaan Sendiri
Suhu terendah dan suatu bahan yang akan menyala dengan sendirinya tanpa bantuan nyala (bunga api) dan luar pada kondisi tertentu. Hal ini merupakan konsep kualitatif yang menarik, karena hal ini tidak digunakan sebagai dasar untuk klasifikasi dan bahan berbahaya.

Water Solubility
Air sangat efektif digunakan sebagai media pemadam pada banyak kasus kebakaran, karena sangat baik sebagai media pendingin. Air dapat mendinginkan bahan yang mempunyai FP rendah di bawah tempcratur bisa terbakar. Jika penggunaan ini untuk menurunkan FP dari jenis bahan pelarut seperti pada aceton atau alkohol maka cara pengenceran dengan air dalam jumlah yang banyak haruslah diberikan, namun hal ini sulit dipraktekkan untuk kebakaran besar dan untuk alasan itu air dan busa digunakan sebagai metode pemisahan uap minyak dari oksigen.

Cairan Mudah Menyala/Terbakar
Suatu material diklasifikasikan sebagai mudah menyala atau terbakar tergantung pada titik nyalanya. Cairan mudah menyala adalah cairan yang mempunyai titik nyala < 37,8 °C. Cairan mudah terbakar adalah cairan yang titik nyalanya 37,8° C atau lebih. Bensin atau premium adalah cairan mudah menyala yang kerosine adalah cairan mudah terbakar.

Faktor-Faktor Yang Menentukan Tindakan Emergency
Pada penanganan setiap jenis keadaan darurat dalam hal cairan kimia tumpah atau pipa pecah sudah tentu faktor-faktor dibawah ini hams dipertimbangkan sebelum tindakan yang cepat dilakukan.
- Cairan kimia yang tumpah harus diindentifikasikan.
- Bahaya racunnya harus diketahui. Berapa TLV nya?
- Titik nyala dan temperatur ambient harus dibandingkan, apakah temperatur ambient lebih besar daripada titik nyala? Apakah uap mudah menyala sudah menyebar?
- Batas daerah mudah menyala. Apakah kecil atau meluas?
- Hal ini menyangkut resiko penyalaan sendiri bila daerah tumpahannya meluas
- Relative Density. Apakah nilainya lebih besar atau lebih kecil?
- Pencampuran dengan air. Apakah cairan kimia larut atau tidak larut dengan air atau apakah bereaksi dengan air?
- Uap reiative density. Apakah nilai relative densitynya lebih besar atau lebih kecil dari 1. jika lebih besar dan 1 uapnya akan terlihat atau lebih rendah dari permukaan.
- Apakah ada sumber penyalaan?
- Temperatur dari penyalaan sendiri (korek api, loncatan bunga api) biasanya terjadi bila temperatur lebih besar dari 800°C. Temperatur penyalaan dan kebanyakan cairan kimia di bawah 540°C
- Perhatikan arah angin dan kelembaban dan sebagainya.

Lampiran-lampiran bahaya-bahaya cairan kimia
Contoh dari daftar data-data bahaya dan diagram penyalaan terlampir, untuk informasi lebih jauh, lihat petunjuk-petunjuk dan penuntun keselamatan.

Vapour density
Vapour density is expressed relative to the density of air, as heavier or lighter. Most chemical cargo vapours are heavier than air. Caution must therefore be exercised during cargo operations, as vapour concentrations are likely to occur at deck level or in lower parts of cargo pumprooms.

Solubility
Solubility is expressed in different ways: either as a simple yes or no, as slight, or as a percentage, but always in relation to water. Solubility is temperature dependant. A cargo with low solubility will form a layer above or below a water layer depending on its specific gravity. Most non-soluble chemicals are lighter than water and will float on top but some others, such as chlorinated solvents, are heavier and will sink to the bottom. Chemicals that are heavier than water can cause a safety risk in pumprooms when the overlying water is disturbed, and in drip trays. Kven in cargo tanks they may be trapped under water in pump wells, and pose a danger even after the tank atmosphere is tested and found safe for entry.

Electrostatic charging
Certain cargoes are known as static accumulators, and become electrostatically charged when handled. They can accumulate enough charge to release a spark that could ignite a flammable tank atmosphere. The precautions necessaiy to prevent ignition from electrostatic charging are contained in Chapter 5, and a description of the phenomenon itself is given in Appendix D.

Viscosity
The viscosity of a cargo determines how easy it is to pump, and the amount of residue that will be left after unloading. Viscosity is related to temperature and, in general, a substance will become less viscous at higher temperatures, but note that certain cargoes (such as luboil additives) show increased viscosity when heated. IMO standards define high and low viscosity substances, and require cargo tanks that have contained substances with a high viscosity to be pre-washed and the washings discharged to shore reception facilities.


Data diatas merupakan sebagian ketikan ulang format MS. Word dari Modul ACT Politeknik Pelayaran Format MS. Word (BAB III). Untuk lengkapnya dapat di download pada link dibawah ini:

Saturday, February 11, 2023

HUBUNGAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DENGAN PRODUKTIVITAS MANUSIA

Teknologi
Teknologi adalah aplikasi praktis dari ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah praktis dan menciptakan produk baru yang mempermudah hidup manusia. Teknologi meliputi berbagai bidang, seperti elektronik, mekanik, biologi, dan lain-lain. Teknologi memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, seperti komunikasi, transportasi, produksi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Dalam era modern ini, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat dan membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Teknologi juga memiliki pengaruh besar pada ekonomi dan bisnis, dengan membantu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi. Namun, perkembangan teknologi juga harus dipertimbangkan dengan bijak untuk memastikan bahwa tidak ada dampak negatif bagi manusia dan lingkungan.

Teknologi dapat berupa alat, mesin, sistem, proses, dan metode baru yang digunakan dalam berbagai bidang, seperti elektronik, mekanik, biologi, informasi, dan lain-lain. Perkembangan teknologi sangat cepat dan memiliki dampak besar pada berbagai aspek kehidupan manusia, seperti komunikasi, transportasi, produksi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai penggunaan pengetahuan dan alat untuk memecahkan masalah dan menciptakan solusi yang lebih baik dan efisien dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Produktivitas
Produktivitas berasal dari kata bahasa Inggris productivity yang merupakan gabungan dari dua kata, yaitu product dan activity. Jika dilihat berdasarkan asal katanya, produktivitas memiliki arti suatu bentuk aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk barang atau jasa. Secara umum, produktivitas adalah kemampuan setiap orang, sistem, atau suatu perusahaan dalam menghasilkan produk barang atau jasa dengan cara memanfaatkan sumber daya secara efektif dan efisien.

Arti kata produktivitas sendiri masih memiliki nilai yang sama dengan daya produksi dan keproduktifan. Kata tersebut sering digunakan untuk menilai tingkat efisiensi mesin, pabrik, perusahaan, sistem atau seseorang dalam mengubah input menjadi output yang diinginkan. Dengan demikian, berdasarkan penjelasan yang ada, dapat dipahami bahwa produktivitas memiliki tiga unsur penting di dalamnya.
Pertama
Efektivitas yang menjadi nilai ketepatan dalam memilih cara untuk mendapatkan sesuatu atau mencapai tujuan.
Kedua
Efisiensi yang menjadi nilai ketepatan dalam melaksanakan sesuatu dengan cara menghemat sumber daya yang tersedia.
Ketiga
Kualitas yang menyatakan tingkat pemenuhan atas berbagai persyaratan, spesifikasi, atau harapan pelanggan.

Pengertian tersendiri tentang produktivitas dari beberapa para ahli sebagai berikut:
Eddy Herjanto
Eddy Herjanto berpendapat bahwa produktivitas adalah suatu nilai yang menyatakan cara terbaik bagi suatu sumber daya untuk diatur dan digunakan dalam mencapai tujuan secara maksimal.
Kung H. Chen, Thomas W. Lin, Blocher Edward J.
Kung H. Chen, Thomas W. Lin, dan Blocher Edward J. berpendapat bahwa produktivitas adalah hubungan antara jumlah output yang dihasilkan dengan jumlah input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output tersebut.
Husein Umar
Husein Umar berpendapat bahwa produktivitas adalah perbandingan antara jumlah output yang dihasilkan dengan jumlah input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output tersebut.
Heny Kuswanti Daryanto
Heny Kuswanti Daryanto berpendapat bahwa produktivitas adalah konsep yang merefleksikan hubungan antara hasil produk dengan sumber daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk tersebut.
Muchdarsyah Sinungan
Muchdarsyah Sinungan berpendapat bahwa produktivitas adalah hubungan hasil nyata antara produk dan input yang sebenarnya.
J. Ravianto
J. Ravianto berpendapat bahwa produktivitas adalah hubungan antara hasil kerja dengan suatu satuan waktu yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah produk.

Jadi, meskipun agak mirip dan memang berkaitan erat, namun produk, produksi, dan produktivitas ternyata memiliki definisi yang berbeda. Bila produktivitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu, produksi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk menciptakan atau menambah nilai guna dari barang atau jasa, sementara produk adalah sesuatu yang dihasilkan dari proses produksi tersebut.

Hubungan Perkembangan Teknologi Terhadap Produktivtias Manusia
Perkembangan teknologi memiliki hubungan yang erat dengan produktivitas manusia. Dalam era modern ini, teknologi memainkan peran penting dalam membantu manusia meningkatkan produktivitas mereka. Perkembanga teknologi tersebut memiliki dampak positif dan negative terhadap produktivitas manusia. Berikut dampak positif dan negative perkembangan teknologi terhadap produktivitas manusia:

Dampak Positif:
Mempermudah akses informasi
Teknologi seperti internet dan mesin pencari membuat akses informasi menjadi lebih mudah dan cepat, sehingga membantu manusia memperoleh informasi yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan tugas mereka dengan lebih efisien.
Meningkatkan efisiensi kerja
Alat dan perangkat teknologi seperti komputer, mesin produksi, dan peralatan kantor lainnya membantu manusia menyelesaikan tugas mereka dengan lebih cepat dan akurat.
Memperluas jangkauan kerja
Teknologi seperti telekonferensi dan kolaborasi daring memungkinkan manusia bekerja dari jarak jauh dan berkolaborasi dengan rekan kerja yang berada di lokasi yang berbeda. Ini memperluas jangkauan kerja dan membantu meningkatkan produktivitas.
Meningkatkan kualitas produk
Alat dan teknologi canggih membantu manusia menciptakan produk yang lebih baik dan berkualitas tinggi.

Dampak Negatif
Penyalahgunaan teknologi
Teknologi yang digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif atau bahkan merugikan dapat mempengaruhi produktivitas manusia secara negatif.
Tergantung pada teknologi
Ketergantungan pada teknologi dapat membuat manusia kurang memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah secara manual, sehingga mengurangi produktivitas dan kreativitas mereka.
Menimbulkan stres dan tekanan
Teknologi yang selalu meminta perhatian dan selalu mengharuskan manusia untuk terhubung dapat menimbulkan stres dan tekanan yang mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas mereka.
Merugikan kesehatan
Penggunaan teknologi yang berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan manusia, seperti masalah mata, postur tubuh yang buruk, dan insomnia.
Merugikan lingkungan
Beberapa teknologi dapat memiliki dampak negatif pada lingkungan, seperti pencemaran udara dan air, penambangan bahan baku, dan lain-lain.
Oleh karena itu, perkembangan teknologi harus dilakukan dengan bijak dan seimbang agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia dan lingkungan.

MODUL ACT POLITEKNIK PELAYARAN FORMAT MS. WORD (BAB II)

ACT
ADVANCE CHEMICAL TANKER

BAB II
FAMILIRIATY WITH PHYSICAL AND CHEMICAL CARGOES

2.1. The Chemical And The Physical Properties of The Noxious Liquid Subtance
Chemical Substance (Zat kimia)
Alam kimia, suatu zat kimia adalah bentuk materi yang konstan komposisi kimia dan sifat yang khas. hal ini idah cacat dipisahkan menjadi komponen-komponen dengan metode pemisahan fisik, yaitu tanpa memecah ikatan kimia, yaitu bahan kimia ini bisa menjadi padat,cair atau pun gas.
Zat kimia sering disebut ‘murni’ untuk membedakan mereka dari campuran. sebuah contoh umum dari zat kimia murni air, tetapi memiliki sifat yang sama dan sama rasio dari hidrogen ke oksigen apakah itu terisolasi dari sungai atau dibuat dalam laboratorium . zat kimia lainnya yang biasa ditemui dalam bentuk murni adalah berlian; karbon), emas, garam meja (nat un klorida) dan halus gula (sukrosa). namun,zat yang tampaknya sederhana atau murni ditemukan di alam sebenamya dapat menjadi campuran dari zat kimia sebagai contoh, air keran dapat mengandung sejumlah kecil natrium klorida terlarut dan senyawa yang mengandung zat besi, kalsium dan banyak zat kimia lainnya.
Zat kimia ada sebagai padatan, cairan, gas, atau plasma dan dapat berubah antara fase materi dengan perubahan suhu atau tekanan. reaksi kimia mengubah satu zat kimia menjadi lain.
Bentuk energi, seperti cahaya dan panas, tidak dianggap sebagai materi, dan dengan demikian mereka tidak “zat” dalam hal ini.

Definisi
Zat kimia (juga disebut zat murni) sering didefinisikan sebagai setiap materi dengan komposisi kimia tertentu di sebagian besar buku teks kimia pengantar umum. Menurut definisi ini zat kimia dapat menjadi murni unsur kimia atau senyawa kimia murni. tapi, ada pengecualian definisi ini, sebuah zat murni juga dapat didefinisikan sebagai bentuk materi yang baik komposisi yang pasti dan sifat yang substansi kimia indeks diterbitkan oleh cas juga mencakup beberapa paduan komposisi tidak pasti non-stoikiometri senvawa adalah kasus khusus (dalam kimia anorganik) yang melanggar hukum komposisi tetap, dan bagi mereka, kadang-kadang sulit untuk menarik garis antara campuran dan senyawa seperti dalam kasus hidrida paladium. Definisi yang lebih luus bahan kimia atau zat kimia dapet di temukan, misalnya: “zat kimia” istilah berarti setiap bahan organik atau anorganik dari identitas molekul tertentu, termasuk-(i) setiap kombinasi dari zat-zat tersebut berlangsung di seluruh atau sebagian sebagai hasil dari reaksi kimia atau terjadi di alam.
Dalam geologi, zat komposisi seragam disebut mineral, sedangkan campuran fisik (agregat) dari beberapa mineral (zat yang berbeda) didefinisikan sebagai batuan. mineral namun, banyak yang saling larut dalam larutan padat, sehingga batu tunggal adalah zat seragam meskipun menjadi campuran feldspar adalah contoh yang ur mn orthoclase adalah aluminium alkali silikat, dimana logam akali secara bergantian baik natrium atau kalium.

Sejarah
Para konsep dari dari “zat kimia” menjadi mapan pada abad kedelapan belas setelah akhir pekerjaan oleh Joseph Proust mengenai komposisi beberapa senyawa kimia mumi seperti tembaga karbonat dasar. dia menyimpulkan bahwa, “semua sampel suatu senyawa memiliki komposisi yang sama, semua sampel memiliki proporsi yang sama, massa, elemen hadir dalam senyawa tersebut”. ini sekarang dikenal sebagai hukum komposisi konstan. Kemudian dengan kemajuan metode untuk sintesis kimia terutama dalam bidang kimia organik; penemuan unsur kimia lebih banyak dan teknik baru dalam bidang kimia analitik yang digunakan untuk isoIasi dan pemurnian unsur dan senyawa dan bahan kimia yang menyebabkan pembentukan modern kimia, konsep didefinisikan sebagai ditemukan dalam buku pelajaran kimia paling, ada beberapa kontroversi mengenai definisi ini terutama karena sejumlah besar zat kimia dilaporkan dalam literatur kimia perlu diindeks.

Kimia elemen
Sebuah element adalah zat kimia yang terdiri dari jenis tertentu dari atom dan karenanya tidak dapat dibagi atau di ubah oleh reaksi kimia menjadi elemen yang berbeda, meskipun dapat transmutated ke elemen lain melalui reaksi nuklir. ini sangat, karena semua atom dalam sampel dari suatu unsur memiliki proton yang sama, meskipun mereka mungkin berbeda isotop, dengan jumlah berbeda dari neutron.
Ada sekitar 120 unsur yang dikenal, sekitar 80 dari yang stabil-yaitu, mereka tidak mengubah oleh peluruhan radioaktif ke unsur lainnya. namun, sejumlah zat kimia yang merupakan elemen bisa lebih dari 120, karena beberapa elemen dapat terjadi sebagai lebih dari zat kimia tunggal misalnya oksigen ada sebagai baik oksigen diatomik (O2) dan ozon (O3) mayoritas elemen diklasifikasikan sebagai logam. Ini adalah elemen dengan karakteristik kilau seperti besi, tembaga, biji logam biasanya menghantarkan listrik dan panas dengan baik, dan mereka mudah dibentuk dan ulet sekitar elemen lusin, seperti karbon, nitrogen, dan oksigen, diklasifikasikan sebagai non-logam tidak tidak memiliki sifat logam dijelaskan di atas, mereka juga memiliki elektronegativitas tinggi dan kecenderungan untuk membentuk ion negatif. Unsur-unsur tertentu seperti silkon menyerupai logam yang kadang menyerupai non-logam, dan dikenal sebagai metaloid.

Senyawa Kimia
Sebuah senyawa kimia mumi adalah zat kimia terdiri dari set tertentu dari molekul atau ion. Dua atau lebih elemen digabungkan menjadi satu zat melalui reaksi kimia membentuk senyawa kimia. Semua senyawa adalah zat tetapi tidak semua zat merupakan senyawa. Sebuah senyawa kimia dapat berupa atom terikat bersama dalam molekul atau kristal yang atom, molekul atau atom membentuk kisi kristal. Senyawa terutama didasarkan pada atom karbon dan hidrogen disebut senyawa organik, dan yang lainnya disebut senyawa anorganik. Senyawa yang mengandung ikatan antara karbon dan logam disebut senyawa prganologam. Senyawa-senyawa dimana komponen berbagai elektron dikenal sebagai kovalen senyawa. senyawa terdiri dari malah dibebankan ion dikenal segai ion senyawa, atau garam.
Dalam kimia organik, bisa ada lebih dari satu senyawa kimia dengan komposisi yang sama dan berat molekul umumnya ini disebut isomer, isomer biasanya memiliki sifat kimia yang secara substansial berbeda, dapat diisolasikan dan tidak spontan mengubah satu sama lain, sebuah contoh umumadalah glukosa vs fruktosa. yang pertama adalah aldehida, yang terakhir adalah keton interkonversi mereka membutuhkan baik enzimatik atau katalistik asam-basa. Namun, ada juga tautomers, dimana isomerisasi terjadi secara spontan, sehingga zat mumi tidak dapat dipisahkan ke dalam tautomers nya sebuah contoh umum adalah glukosa, yang memiliki rantai terbuka dan bentuk cincin. seseorang tidak dapat memproduksi mumi rantai terbuka glukosa karena glukosa secara spontan cyclizes ke hemiacetal bentuk.

Zat dibandingkan campuran
Semua materi terdiri dari berbagai unsur dan senyawa kimia, tetapi ini sering dicampur bersama-sama erat. campuran mengandung lebih dari satu zat kimia, dan mereka tidak memiliki komposisi tetap. Pada prinsipnya mereka dapat dipisahkan menjadi zat komponen dengan murni mekanis proses, mentega , tanah dan kayu adalah contoh umum dari campuran.
Abu-abu besi dan kuning belerang keduanya unsur kimia, dan mereka dapat dicampur bersama dalam rasio untuk membentuk campuran kuning-abu-abu. Tidak ada proses kimia terjadi, dan material dapat diidentifikasi sebagai campuran oleh fakta bahwa belerang dan besi dapat dipisahkan dengan proses mekanis, seperti menggunakan magnet untuk menarik besi jauh dari belerang.
Sebaiknya jika besi dan belerang dipanaskan bersama dalam sebuah rasio tertentu (1 atom besi untuk setiap atom sulfur, atau berat, 56 gram (1 mol) zat besi sampai 32 gram (1 mol) sulfur, suatu bahan kimia yang reaksi terjadi dan zat baru terbentuk senyawa besi (ii) sulfida. Dengan rumus kimia FeS, senyawa yang dihasilkan memiliki semua sifat-sifat zat kimia dan bukan campuran. Besi (ii) sulfida memiliki sifat yang berbeda seperti titik leleh dan, dan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan menggunakan proses mekanik normal, magnet tidak akan dapat memulihkan besi, karena tidak ada besi logam hadir kompleks.

Bahan kimia terhadap zat kimia
Sementara zat kimia adalah istilah teknis yang tepat yang identik dengan “kimia” untuk kimiawan prifesional arti dari kata kimia bervariasi untuk non-ahli kimia di dalam dunia berbahasa inggris atau mereka yg menggunakan bahasa inggris. Untuk industri, pemerintah dan masyarakat secara umum di beberapa negara bahan kimia kata termasuk yang lebih luas dari zat yang banyak mengandung campuran zat kimia seperti, sering menemukan kasi di bidang pekerjaan banyak. Di negara-negara yang membutuhkan daftar bahan dalam produk “kimia” tercantum akan disamakan dengan “zat kimia”.
Catatan muatan kimia adalah zat kimia yang dapet diklasifikasikan berdasarkan volume produksi menjadi bahan kimia yang ditemukan dalam penelitian saja. Bahan kimia yang di produksi dengan biaya tinggi dalam jumlah kecil untuk khusus rendah volume aplikasi seperti biocidesm farmasi dan bahan kimia khusus untuk aplikasi teknis. Penelitian bahan kimia diproduksi secara individu untuk penelitian, seperti ketika mencari zat skrining untuk aktifitas farmasi. Akibatnya, harga mereka per gram sangat tinggi, meskipun mereka tidak dijual penyebab perbedaan dalam volume adalah kompleksitas struktur molekul bahan kimia biasanya jauh kurang kompleks. Sementara bahan kimia mungkin lebih kompleks banyak dari mereka cukup sederhana untuk di jual sebagai “blok bangunan” dalam sintesis molekul yang lebih kompleks ditargetkan untuk penggunaan tunggal, seperti yang disebutkan di atas. Produksi bahan kimia yang tidak hanya mencakup sintesis tetapi juga pemumian untuk menghilangkan produk samping dan kotoran yang terlibat dalam sintesis. Langkah terakhir dalam produksi hams analisis banyak patch bahan kimia untuk mengidentifikasi dan mengukur persentase kotoran untuk pembeli dan bahan kimia kemurnian di perlukan dan analisis tergantung pada aplikasi, tetapi toleransi yang lebih tinggi dari kotoran biasanya dalam produksi kimia dengan demikian, pengguna bahan kimia di AS mungkin memilih antara massal atau “nilai teknis” dengan jumlah yang lebih tinggi dari kotoran atau lebih murni banyak "‘farmasi grade”berlabel “USP”.

Teratogen
A substance or agent, exposure to which by a pregnant female can result in malformations in the fetus.

TLV (Threshold Limit Value)
A term used to express the airborne concentration of a material to which most workers can be exposed during a normal daily and weekly schedule without adverse effects. ACGIH expresses TLV s in three ways: 1) TLV TWA, the allowable time-weighted average concentration for a normal 8-hour workday or 40-hour week; 2) TLV STEL, the short-term exposure limit or maximum concentration for a continuous exposure period of 15 minutes (with a maximum of four such periods per day, with at least 60 minutes between exposure periods, and provided that the daily TLV- TWA is not exceeded); and 3) Ceiling (C), the concentration not to exceed at any time.

Toxicology
The study of the nature, effects, and detection of poisons in living organisms. Also, substances that are other wise harmless but prove toxic under particular conditions. The basic assumption of toxicology is that there is a relationship among the dose (amount), the concentration at the affected site, and the resulting effects.

Toxic Substance
Any chemical or material that: 1) has evidence of an acute or chronic health hazard and 2) is listed in the NIOSH REGISTRY OF TOXIC EFFECTS of Chemical Substances (RTECS), provided that the substance causes harm at any dose level; causes cancer or reproductive effects in animals at any dose level; has a median lethal dose (LD50) of less than 500 mg/kg of body weight when administered orally to rats; has a median LD5Q of less than 1000 mg/kg of body weight when administered by continuous contact to the bare skin of albino rabbits; or has a median lethal concentration (LD50) in air of less than 2000 ppm by volume of gas vapor, or less than 20 mg/L of mist, fume, or dust when administered to albino rats.

Upper Explosive Limit, Upper Flammable Limit (VEL, UFL)
The highest concentration of a material in air that produces an explosion or fire, or that ignites when it contacts an ignition. Source (high heat, electric arc, spark, or flame). Any concentration above the UEL in air is too rich to be ignited. See Flammable Limits.

Vapor.
The gaseous state of a material normally encountered as liquid.

Vapor density
The weight of a vapor or gas compared to the weight of an equal volume of air is an expression of the density of the vapor or gas.

VOC (Volatile Organic Compounds)
Used in coatings and paint because they evaporate very rapidly. Regulated by the EPA per the Clean Air Act.


Data diatas merupakan sebagian ketikan ulang format MS. Word dari Modul ACT Politeknik Pelayaran Format MS. Word (BAB II). Untuk lengkapnya dapat di download pada link dibawah ini:
DOWNLOAD Modul ACT Politeknik Pelayaran Format MS. Word (BAB II) Lengkap